Menguat 0,5 Persen, IHSG Punya Rekor Tertinggi Baru

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

    Tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali ditutup menguat pada akhir perdagangan hari ketiga berturut-turut, Senin, 8 Januari 2018, sekaligus kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

    IHSG ditutup menguat 0,5 persen atau 31,67 poin di level 6.385,40. Sepanjang perdagangan, IHSG terus mempertahankan pergerakannya di wilayah positif. Hari ini IHSG bergerak di kisaran 6.349,04–6.385,36.

    Dari 570 saham yang diperdagangkan hari ini di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 226 saham menguat, 134 saham melemah, dan 210 saham stagnan.

    Delapan dari sembilan indeks sektoral IHSG berakhir di zona hijau, dipimpin sektor tambang dengan penguatan 2,56% dan disusul sektor properti yang naik 1,73 persen.

    Baca juga: Analis: IHSG Diprediksi Menguat Awal Pekan Ini

    Di sisi lain, sektor industri dasar menjadi satu-satunya indeks sektoral yang menahan penguatan IHSG lebih lanjut setelah ditutup melemah 0,86 persen.

    Saham-saham pendorong IHSG:

    ADRO +8,54 persen

    BMRI +1,28 persen

    UNVR +0,74 persen

    BBCA +0,45 persen

    Saham-saham penekan IHSG:

    CPIN -8,61 persen

    ICBP -2,96 persen

    TLKM -0,47 persen

    GEMS -9,09 persen

    Pagi hari tadi, IHSG dibuka di zona hijau dengan penguatan hanya 0,01 persen atau 0,62 poin di level 6.354,36. Adapun pada perdagangan Jumat pekan lalu, 5 Januari 2018, IHSG ditutup menguat 0,98 persen atau 61,42 poin ke posisi 6.353,74.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.