Uang Kartal Beredar Mencapai 694 T, Terbanyak Pecahan Rp 100 Ribu

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi uang rupiah. ANTARA/M Agung Rajasa

    Ilustrasi uang rupiah. ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa uang kartal yang beredar di masyarakat pada 2017 mengalami  peningkatan hingga 13,4 persen dibanding 2016. Direktur Eksekutif Departemen Peredaran BI, Suhaedi, mengatakan jumlah peredaran tersebut mencapai Rp 694,8 triliun pada 2017, naik dari Rp 612,6 triliun pada 2016.

    "Hasil dari catatan kami, jumlah tersebut adalah yang tertinggi dalam jangka waktu 3 tahun terakhir," kata Suhaedi di Kantor BI, Jakarta, Jumat, 5 Januari 2017.

    Baca juga: Masyarakat Kepulauan Terpencil Kesulitan Uang Kartal Baru

    Dari data yang berhasil di kumpulkan oleh BI, bertambahnya jumlah uang kartal yang beredar tersebut sesuai dengan data semakin membaiknya perkonomian Indonesia. BI mencatat bahwa permintaan terhadap uang kartal selama 5 tahun meningkat rata-rata hingga 10 persen.

    Suhaedi juga mengatakan bahwa selama 2017 BI melalui Perum Peruri telah mencetak sebanyak 11,026 miliar bilyet uang kartal. Sedangkan untuk uang logam, Peruri mencetak sebanyak 2,29 miliar keping.

    "Karena itu persedian uang cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh provinsi dan kabupaten di Indonesia," katanya.

    Selain itu, menurut Suhaedi, BI juga mencatat bahwa ada peningkatan outflow (penarikan uang kas) dan inflow (setoran uang). Untuk outflow ada peningkatan 12,2 persen menjadi sebesar Rp 684,9 triliun. Sedangkan, untuk inflow naik 3,3 persen menjadi Rp 603,6 triliun. "Posisi kas rata-rata sepanjang 2017, secara nasional setara 2,85 perbulan rata-rata outflow," ucapnya.

    Adapun untuk uang kartal, pecahan paling banyak beredar adalah pecahan Rp 100 ribu senilai Rp 454 triliun. Sedangkan untuk uang logam, pecahan yang paling banyak beredar adalah Rp 500 dengan nilai mencapai Rp 3,8 triliun.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).