Siklus Ekonomi 10 Tahunan, Analis: Tidak Ada Potensi Krisis

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Rupiah Indonesia pada 15 Desember merosot ke tingkat terendah terhadap dolar sejak krisis keuangan Asia 16 tahun yang lalu, karena pasar negara berkembang terpukul seiring kemajuan perbaikan ekonomi Amerika Serikat. Adek Berry/AFP/Getty Images

    Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Rupiah Indonesia pada 15 Desember merosot ke tingkat terendah terhadap dolar sejak krisis keuangan Asia 16 tahun yang lalu, karena pasar negara berkembang terpukul seiring kemajuan perbaikan ekonomi Amerika Serikat. Adek Berry/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan tak ada potensi krisis sepuluh tahunan terjadi pada 2018. Kekhawatiran krisis sepuluh tahunan ini muncul mengingat resesi yang melumpuhkan sebagian besar ekonomi dunia pada 1998 dan 2008.

    Hans berujar, ekonomi global kemungkinan bakal terdampak perlambatan ekonomi Cina yang tampaknya mengerem pertumbuhan ekonominya. Namun dia tak melihat hal itu akan berdampak pada krisis.

    "Kalau sekarang, kami belum menemukan sesuatu yang bakal menjadi masalah krisis," ucap Hans melalui telepon pada Selasa, 2 Januari 2018.

    Baca: Analis: Ekonomi Indonesia di 2018 Penuh Peluang dan Risiko 

    Pada 1997-1998, tutur Hans, krisis terjadi lantaran adanya perubahan kebijakan di banyak negara berkembang, khususnya terkait dengan perdagangan bebas. "Padahal ada perbedaan inflasi di sana dan perbandingan ekspor-impor yang enggak terlalu balance, sehingga terjadi kerapuhan ekonomi tahun 1997-1998," katanya.

    Sedangkan krisis ekonomi 2008, ucap Hans, dipengaruhi penggelembungan harga properti di Amerika Serikat.

    "Terjadi bubble harga properti di sana seiring dengan naiknya suku bunga. Kredit macet perumahan properti pun terjadi, sehingga ada krisis subprime mortgage yang merugikan sampai 800 miliar dolar," ujar Hans.

    Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso berpendapat senada. Namun Wimboh menuturkan otoritas akan berupaya mengatasi potensi siklus krisis. "Kami akan lihat supaya bank-bank mempunyai buffer likuiditas yang cukup. Likuiditas atau modalnya 23 persen, tinggi," kata Wimboh.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.