BPS: Jumlah Penduduk Miskin 26,58 Juta Orang

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan: Perlu Upaya Ekstra Turunkan Kemiskinan

    Menteri Keuangan: Perlu Upaya Ekstra Turunkan Kemiskinan

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada September 2017 sebanyak 26,58 juta orang. Jumlahnya menurun 1,19 juta orang dari Maret 2017 yang mencapai 27,77 juta orang. Secara presentase, angkanya menurun 10,21 persen.

    Kepala BPS Suhariyanto mengatakan penurunan tersebut merupakan capaian menggembirakan. Pasalnya presentase penduduk miskin menunjukkan tren penurunan sejak Maret 2011. "Pencapaian September ini yang paling bagus karena penurunannya lebih cepat kalau dibandingkan tujuh tahun terakhir," kata dia di kantornya, Jakarta, Selasa, 2 Januari 2018.

    Berdasarkan daerah tempat tinggal, penduduk miskin di desa lebih tinggi dari pada di kota. Pada September 2017, jumlah penduduk miskin di perdesaan sebanyak 16,31 juta orang atau 13,47 persen dari total. Sementara di perkotaan jumlahnya 10,27 juta orang atau 7,26 persen.

    Meski masih tinggi, Suhariyanto mengatakan jumlah penduduk miskin di perkotaan dan perdesaan mengalami penurunan selama periode Maret-September 2017. Di perkotaan, jumlahnya menurun 401,28 ribu orang sementara di perdesaan turun 786,95 ribu orang.

    Suhariyanto mengatakan inflasi menjadi salah satu faktor yang paling mempengaruhi tingkat kemiskinan selama periode Maret-September 2017. Selama periode tersebut, inflasi umum relatif rendah yaitu sebesar 1,45 persen.

    Faktor penyebab penurunan tingkat kemiskinan lainnya adalah rata-rata upah nominal buruh tani per hari pada September yang naik sebesar 1,50 persen dibanding Maret. Angkanya naik dari Rp 49.473 menjadi Rp 50.123. Upah riil buruh tani per hari pada periode yang sama juga naik 1,05 persen dari Rp37.318 menjadi Rp 37.711.

    Upah buruh bangunan per hari pun naik 0,78 persen dari Rp 83.724 menjadi Rp 84.378. Di sisi lain, upah buruh bangunan per hari di periode yang saman turun 0,66 persen dari Rp 65.297 menjadi Rp 64.867.

    Suhariyanto mengatakan laju pertumbuhan beberapa harga komoditas pangan juga cukup terkendali sehingga membantu menekan laju kenaikan garis kemiskinan dan membantu daya beli masyarakat. Harga beras misalnya, naik hanya 0,69 oersen dari Rp 13.125 pada Maret 2017 menjadi Rp 13.215 pada September 2017. Selain beras, komoditas lain yang berpengaruh adalah rokok kretek filter, daging sapi, telur ayam ras, mie instan, dan gula pasir.

    Faktor pendukung lainnya adalah penyaluran beras sejahtera (rastra). Selama Maret-September 2017, BPS mencatat rata-rata rastra telah disalurkan kepada sekitar 30 persen rumah tangga setiap bulannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.