Sedapnya Terasi Toboali, Disukai Wisatawan Jepang dan Prancis

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terasi Toboali. youtube.com

    Terasi Toboali. youtube.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Terasi produksi daerah Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dikenal memiliki kualitas super sehingga laris manis di pasaran.

    "Terasi asal Toboali memang lebih enak dibandingkan daerah lain dan kualitasnya sudah terkenal ke berbagai daerah sehingga banyak yang mencarinya," ujar salah seorang pedagang terasi di Pasar Pagi Pangkalpinang, Akung, Selasa, 26 Desember 2017.

    Terasi Toboali memiliki ciri tersendiri, di antaranya memiliki aroma udang yang khas, rasa yang lebih enak, tidak pahit dan warnanya lebih bagus agak kemerahan. "Terasi Toboali warnanya tidak hitam, rasanya tidak pahit karena bahan baku yang digunakan masih segar, berkualitas bagus, serta cara pengolahannya masih manual dengan resep turun-temurun dari nenek moyang," kata Akung.

    Baca juga: Acha Septriasa Kesulitan Mencari Terasi di Australia

    Terasi Toboali tidak hanya diminati masyarakat lokal Bangka Belitung saja, tetapi juga oleh masyarakat dari luar daerah. Kampung Padang Toboali merupakan sentra pembuatan terasi khas Kabupaten Bangka Selatan, sekitar lima menit perjalanan dari kawasan Simpang Lima Toboali. "Banyak wisatawan yang datang ke Babel mencari terasi Toboali, terlebihnya pada saat liburan," katanya.

    Pada musim liburan kali ini, peminat terasi Toboali semakin banyak. Wisatawan lokal hingga mancanegara, seperti Jepang dan Prancis, menjadikannya sebagai oleh-oleh.

    Baca juga: Kebijakan Menteri Susi Ancam Bisnis Terasi Jember

    Akung menyebutkan, setiap memasuki libur panjang banyak, banyak wisatawan yang datang ke Bangka Belitung dan mencari terasi Toboali untuk dijadikan oleh-oleh. "Karena mereka tahu bagusnya kualitas terasi Toboali," tuturnya.

    Biasanya Akung menjual terasi sekitar 15-30 kilogram per hari. Namun sejak libur panjang, jualannya laris mencapai 70-100 kilogram per hari. "Untuk harga terjangkau kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram," katanya.

    Pedagang terasi lainnya, Leni, juga ketiban berkah saat musim liburan seperti sekarang ini. "Selain beli langsung ke toko, banyak juga pelanggan saya yang sudah pesan terlebih dahulu untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh," ujarnya.

    Dalam satu hari Leni bisa menjual terasi sebanyak 75 kilogram atau meningkat dibandingkan hari biasanya yang hanya 25-30 kilogram per hari.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.