Kenapa BI Prediksi Inflasi Naik di Minggu Ketiga Desember?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo saat berdiskusi di kantor Tempo, Palmerah, Jakarta, 11 November 2015. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

    Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo saat berdiskusi di kantor Tempo, Palmerah, Jakarta, 11 November 2015. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

    TEMPO.CO, Denpasar - Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo memperkirakan laju inflasi hingga minggu ketiga Desember 2017 berada pada kisaran 0,42 persen. "Desember ini minggu ketiga ada di kisaran 0,42 persen," kata Agus saat ditemui di Bali, Sabtu, 23 Desember 2017.

    Laju inflasi pada periode ini, menurut Agus Marto, masih disumbang oleh kenaikan harga-harga makanan seperti telur ayam dan cabai. Meski laju inflasi meningkat menjelang akhir tahun, tingkat inflasi nasional sepanjang 2017 berada pada kisaran 3-3,5 persen. "Secara setahun masih ada di bawah 3,5 persen, sejalan dengan inflasi yang kita perkirakan 3-3,5 persen," ujarnya.

    Baca: Inflasi Bisa di Bawah 3,5 Persen Tahun Depan dengan Catatan...

    Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi pada November 2017 sebesar 0,2 persen, yang dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan, seperti cabai merah, bawang merah, dan beras. Dengan demikian, tingkat inflasi tahun kalender Januari-November 2017 mencapai 2,87 persen dan inflasi tahunan (year on year) sebesar 3,3 persen.

    Laju inflasi sepanjang 2017 ini masih berada di bawah asumsi yang ditetapkan pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2017 sebesar 4,3 persen. Sedangkan laju inflasi pada Desember 2016 tercatat 0,42 persen atau yang terendah sejak 2010 dalam periode yang sama.

    Kepala BPS Suhariyanto menuturkan salah satu penyebab inflasi komponen inti pada bulan ini adalah banyaknya komoditas yang ketika dikumpulkan memberikan andil 0,08 terhadap inflasi. “Penyebabnya banyak. Kalau kita lihat, mayoritas dari jumlah komoditas yang naik itu 361, ada yang stabil, dan ada yang turun 152,” ujarnya, awal Desember lalu.

    BPS mencatat inflasi komponen inti secara akumulatif sepanjang tahun ini 2,82 persen (year-to-date) dan inflasi November 2017 terhadap November 2016 sebesar 3,05 persen (year-on-year). Ditilik dari komponennya, inflasi tertinggi terjadi pada barang yang harganya bergejolak (volatile food), disusul barang yang harganya diatur pemerintah (administered price). BPS mencatat inflasi volatile food dan administered price masing-masing 0,38 persen dan 0,21 persen.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemprov DKI Putuskan Kalender Pendidikan Mulai 13 Juli 2020

    Pemprov DKI Jakarta menetapkan kalender pendidikan 2020/2021 dimulai 13 Juli 2020 dan selesai di Juni 2021. Pada Juli 2021, masuk kalender berikutnya.