Kisah Hari Ibu: Relakan Uang Belanja Demi Modal Usaha

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Yuli Ningsih, pemilik Cita Rasa Alami, memamerkan plakat penghargaan Pahlawan Ekonomi 2017 dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. TEMPO/Artika Rachmi Farmita

    Yuli Ningsih, pemilik Cita Rasa Alami, memamerkan plakat penghargaan Pahlawan Ekonomi 2017 dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. TEMPO/Artika Rachmi Farmita

    TEMPO.CO, Surabaya -Sepenggal kisah di Hari Ibu. Masalah hidup tak selamanya terasa menyengsarakan. Dari masalah hidup itulah, Yuli Ningsih, 38 tahun, beranjak dari keterpurukan. Bahkan menangguk berkah karena berwirausaha.

    Ningsih terjerat hutang sebesar Rp 107 juta untuk biaya operasi setelah melahirkan putra kembarnya: Dana dan Danu, pada 2007. Dan ketika kedua anaknya telah balita, ia masih menanggung beban hutang sekitar Rp 40 juta.

    “Saya putar otak, saya nggak mungkin meninggalkan anak saya yang masih kecil-kecil untuk bekerja di luar. Semua demi anak-anak saya,” ujarnya kepada Tempo.

    Baca: Hari Ibu, Pahlawan Ekonomi Ini Berkarya dari Rumah

    Alhasil, jalan satu-satunya ialah bekerja dari rumah. Karena ia dan suaminya, Winarso, sudah habis-habisan membayar hutang, Ningsih merelakan uang belanja Rp 500 ribu untuk dijadikan modal usaha awal. “Saya ingat, tiga tahun lalu itu saya pakai untuk beli mixer (pengaduk adonan).”

    Tahun 2015, ia membulatkan tekad mengikuti program Pahlawan Ekonomi dari Pemerintah Kota Surabaya untuk mengembangkan usahanya. Ia mengemas usahanya dengan nama “UKM Cita Rasa Alami” di bidang makanan ringan.

    Ningsih memulai bisnis kue keringnya dengan produk egg roll. Di Pahlawan Ekonomi, ia mengasah ilmu pemasaran melalui medium Internet dan mempercantik kemasan luarnya. "Selain jualan lewat Facebook, produk saya juga tersebar di 40 outlet sentra UKM dan sentra oleh-oleh di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo," kata dia.

    Berkat pengemasan yang menarik oleh desainer Kreavi yang menjadi mitra Pahlawan Ekonomi, produknya lebih dilirik oleh pembeli. “Di sini saya diajarkan untuk meningkatkan kualitas produk lewat kemasan dan promosi,” tuturnya.

    Kini dalam sehari, produksi kue keringnya mencapai 20-30 toples. Selain egg roll, ia menambah varian produk dengan brownies, keripik usus, dan keripik kacang sengon. "Sekarang sudah dibantu lima orang pegawai dari warga sekitar rumah di Lakarsantri," ujarnya.

    Jika memasuki musim Lebaran, permintaan kue kering bikinannya semakin meningkat. Seribu toples sebulan pun, masih kurang. Omzetnya menyentuh angka Rp 50 juta per bulan.

    Ningsih mengakui, anak-anaknya lah yang mendorongnya berwirausaha sampai sekarang. Berkarya dari rumah tanpa meninggalkan pengasuhan anak-anak menjadi sumber penyemangatnya. “Kalau wirausaha, saya bisa momong anak. Saya ingin ekonomi keluarga demi anak-anak agar pendidikannya lebih baik lagi,” kata tamatan SMP di Jember itu.

    Berkat ketekunannya, Cita Rasa Alami memperoleh juara pertama kategori Home Industri tahun 2017. Ningsih bisa tersenyum lega saat menerima plakat dan kontrak senilai Rp 30 juta dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, di depan suami dan ketiga anaknya. Begitulah kisah di Hari Ibu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.