Senin, 28 Mei 2018

Hari Ibu, Kisah Perempuan Produsen Kue Kering di Luar Lebaran

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemilik Diah Cookies (facebook.com)

    Pemilik Diah Cookies (facebook.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Diah Arfianti, 40 tahun, adalah sosok yang patut menjadi contoh tentang keuletan seorang pengusaha UMKM wanita di peringatan Hari Ibu 2018 ini.

    Menggunakan merek Diah Cookies, usaha kue keringnya semakin melebar. Awal tahun depan, ia berencana memindahkan produksi dari rumahnya di kawasan Kampung Ketandan, Surabaya ke sebuah bangunan yang lebih besar berukuran 10x12 meter di seberang rumahnya.

    Baca juga: Sri Mulyani Beri Hormat ke Seluruh Perempuan di Hari Ibu

    “Hari ini bancakan-nya, mbak. Nanti sedikit demi sedikit peralatan dan oven dipindah,” ujarnya kepada Tempo, Rabu, 20 Desember 2017.

    Diah ialah pengusaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan program Pahlawan Ekonomi Pemerintah Kota Surabaya. Tahun 2016 lalu, ia memperoleh juara pertama kategori Home Industry di puncak acara penghargaan. “Tahun ini, saya nyoba ikut lagi tapi nggak menang,” katanya.

    Diah bukan ibu rumah tangga biasa. Meski suaminya, Mochammad Rofik masih bekerja, sejak 2001 ia aktif berkreasi di dapur lalu dijual. Memang dasarnya suka memasak, ia membuat kue kering saat Lebaran untuk mengisi waktu luang. “Buat nambah-nambah beli baju waktu Lebaran aja,” tuturnya.

    Pada 2010, badai menerpa rumah tangga mereka. Perusahaan tempat Rofik bekerja gulung tikar sehingga sag suami di-PHK. Tak mau berdiam diri, Diah mengajak suaminya berjualan makanan untuk menyambung hidup berbekal uang Rp 500 ribu.

    Apa saja yang menghasilkan uang, ia jual. Selain cookies, ia menjajakan tempe penyet, nasi kotak, sampai ceker crispy. Lama kelamaan, ia menyadari bahwa ia butuh bekerja namun tetap berada di rumah. “Waktu itu bapak saya lagi sakit. Saya kepikiran, saya harus cari cara kerja dari rumah biar sekalian merawat bapak dan mengawasi anak-anak,” ujar ibu dua putri tersebut.

    Diah lalu menjatuhkan pilihan menggeluti bisnis cookies saja. Pada 2012, ia mulai mengikuti pelatihan yang digelar Pahlawan Ekonomi Pemkot Surabaya. Tapi ia tak antusias, karena masih bingung memantapkan pilihan hatinya dalam berwirausaha.

    Baru pada 2013, ia aktif mendalami ilmu pemasaran melalui internet dan media sosial yang diberikan di salah satu kelas Pahlawan Ekonomi. Seorang kawannya lalu membantu Diah membuatkan akun Facebook, khusus untuk memasarkan produk-produk kue keringnya.

    Setiap hari, Diah gencar menawarkan kue kering bikinannya di media sosial dengan sistem minimum order. Tak sedikit cibiran yang mendarat di lapak digital Diah. Menurut warganet, lulusan SMK perhotelan itu aneh karena menjual kue kering di luar musim Hari Raya seperti Lebaran dan Natal. “Saya diejek, ‘Ini kan, nggak Lebaran. Buat apa jualan kue kering, Diah?’ Ya saya jawab aja iseng, ‘Buat keramas!’”, katanya lalu terkekeh.

    Agar citranya baik, Diah memotret semua pelanggan yang membeli kuenya. Tujuannya, menunjukkan kepada calon pelanggan lain bahwa kuenya enak dan  eksis. “Bojoku (suamiku) tak foto, tak provokasi kalau ada lo orang yang mau beli kue bikinanku,” ujar dia.

    Terbukti, kegigihan Diah mampu menjawab keraguan orang-orang di sekitarnya. Awal 2017, Diah mewujudkan mimpinya untuk membeli oven convection 705 dan mixer SM-201 yang didatangkan dari Taiwan.

    Pemanggang berkapasitas 5 loyang sekaligus itu ia beli seharga Rp 45 juta secara tunai. Sedangkan mesin pengaduk adonan roti berukuran 20 liter dibeli seharga Rp 10 juta. “Itu mesin sudah impian saya bertahun-tahun. Tiap lihat di pameran saya elus-elus dan doakan, ‘duh mesin, mudahkanlah aku memilikimu’,” tutur dia.

    Produksi kuenya langsung melonjak. Jika menggunakan oven biasa ia hanya mampu mencetak 100 toples per hari, dengan mesin baru produksinya naik dua kali lipat.

    Kini, Diah Cookies telah memiliki sekitar 50 reseller di Surabaya yang rata-rata mengambil keuntungan Rp 10-20 ribu per toples kue kering. Beberapa reseller tersebut juga rutin mendapat pesanan dari perusahaan-perusahaan besar yang menjadikan kue keringnya hidangan saat rapat.

    Jangan ditanya omsetnya, karena Diah tak mau membeberkan. Sedikitnya, ia punya 5 pegawai tetap dan 20 pegawai musiman saat pesanan mencapai puncaknya. “Pokoknya Alhamdulillah saya sekarang bisa menyimpan stok kue kering. Pasti ada yang beli meskipun bukan Lebaran.”

    Lebaran atau Natalan tahun 2016 lalu, Diah Cookies mampu memproduksi 1.500-2.000 toples setiap hari. Semua produknya bisa ludes terjual hanya dalam seminggu.

    Ke depan, Diah punya mimpi meningkatkan skala produksinya menjadi pabrik besar, tak lagi sekadar industri rumahan. Untuk itu, ia tengah mempelajari sistem manajemen yang profesional dan sistem pelaporan keuangan yang rapi kepada Dinas Tenaga Kerja Kota Surabaya.

    “Selama ini kan, aku megang semuanya; ya produksi, keuangan, pemasaran. Suatu saat aku yo pengen jadi bos beneran. Kuncinya; berani dan nekat,” kata Diah.

    Berita Hari Ibu lain, bisa Anda nikmati di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Jenis Serangan di Seluruh Dunia, Teror Bom Masih Jadi Pilihan

    Inilah jenis-jenis teror dan korban yang jatuh di berbagai penjuru dunia sejak menara kembar WTC diserang, teror bom masih jadi pilihan pelaku teror.