IHSG Ditutup Menguat, Analis: Fitch Jadi Katalis Positif

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung melintas di depan papan tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

    Pengunjung melintas di depan papan tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada level 6.183,381, naik 1,21 persen atau 73,909 poin pada penutupan hari ini. IHSG kembali bergerak di zona hijau setelah kemarin ditutup melemah pada level 6.109,482 atau turun 0,94 persen dari perdagangan hari sebelumnya.

    Analis Binaartha Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan pergerakan positif IHSG hari ini disumbang oleh stabilitas fundamental makroekonomi dalam negeri yang inklusif dan berkesinambungan.

    Baca: Apa Alasan Fitch Naikkan Peringkat Utang RI? 

    “Stabilitas fundamental dalam negeri yang inklusif dan berkesinambungan memberi katalis positif terhadap penguatan IHSG sehingga sempat menyentuh level 6.183 sebagai rekor tertinggi,” kata Nafan, melalui pesan kepada Tempo, Kamis, 21 Desember 2017.

    Pada perdagangan hari ini, IHSG menyentuh level tertinggi di level 6.183,391 dan terendah di angka 6.126,786 setelah dibuka pada level 6.129,533, pagi tadi.

    “Katalis positifnya adalah kenaikan rating outlook Indonesia dari lembaga Fitch dari BBB- menjadi BBB,” ujar Nafan.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan kenaikan peringkat Fitch merupakan assessment yang baik pada sisi fiskal. Menurut dia, dengan kenaikan itu, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Indonesia digambarkan lebih memiliki kredibilitas.

    Fitch menaikkan peringkat Indonesia berdasarkan pengamatan tentang menguatnya ketahanan ekonomi Indonesia terhadap sektor eksternal. Ketahanan ini didukung kebijakan makroekonomi secara konsisten yang diarahkan untuk menjaga stabilitas, misalnya nilai tukar yang lebih fleksibel, cadangan devisa yang meningkat tajam, moneter yang mampu mengatasi gejolak aliran modal, dan kebijakan makroprudensial yang mampu mengendalikan utang luar negeri korporasi.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI | VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.