Ini Isi Perjanjian Dagang Palestina dengan Indonesia

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito melihat gerai daging bersih saat inspeksi ke Pasar Cihapit, Bandung, Jawa Barat, pasca lebaran, 28 Juni 2017. Mendag juga tertarik untuk mengadopsi penataan desain Pasar Cihapit untuk diterapkan di pasar-pasar tradisional. TEMPO/Prima Mulia

    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito melihat gerai daging bersih saat inspeksi ke Pasar Cihapit, Bandung, Jawa Barat, pasca lebaran, 28 Juni 2017. Mendag juga tertarik untuk mengadopsi penataan desain Pasar Cihapit untuk diterapkan di pasar-pasar tradisional. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita bertemu dengan Menteri Ekonomi Palestina Abeer Odeh untuk membuat perjanjian dagang. Pertemuan itu terjadi saat Enggar mengadiri Konferensi Tingkat Menteri World Trade Organization (WTO) di Buenos Aires, Argentina.

    Enggar mengatakan kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk membuka akses pasar ekspor dan impor. "Indonesia akan memberikan tarif preferensi 0 persen bagi kurma dan produk minyak zaitun yang berasal dari wilayah Palestina," kata dia di kantornya, Jakarta, Rabu, 20 Desember 2017.

    Simak: Indonesia-Eropa Jajaki Kerja Sama Perdagangan

    Indonesia saat ini tengah menunggu daftar permintaan barang yang dibutuhkan Palestina untuk diekspor. "Kami menyatakan siap mengirim dengan zero tarif sehingga rakyat Palestina akan menikmati barang dengan harga murah," ujar Enggar.

    Atas dasar MoU tersebut, Menteri Keuangan akan menerbitkan PMK mengenai pembebasan bea masuk tersebut. Menurut Enggar, kebijakan tersebut akan berlaku mulai 1 Januari 2018.

    Enggar menuturkan perjanjian kerja sama ini merupakan titah langsung dari Presiden Joko Widodo. "Ini perintah Presiden," kata dia. Selama ini, perdagangan dengan Palestina tidak dilakukan langsung melainkan melalui Jordan.

    Selain dengan Menteri Ekonomi Palestina, Enggar juga bertemu dengan Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Austalia, Steven Ciobo. Keduanya membahas perundungan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

    Enggar menuturkan kedua belah pihak sepakat perundingan, termasuk kerja sama dagang, yang terakhir dilakukan pada 4-8 Desember 2017 belum berakhir. Beberapa isu dinyatakan masih perlu ditangani lebih lanjut. "Kami sepakat agar perundingan dituntaskan sebelum Maret 2018," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Depresi Atas Gagal Nyaleg

    Dalam pemilu 2019, menang atau kalah adalah hal yang lumrah. Tetapi, banyak caleg yang sekarang mengalami depresi karena kegagalannya.