Kemenkeu Sebut Alasan Generasi Milenial Sulit Punya Rumah Pribadi

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung melihat maket perumahan  dalam pameran Real Estate Indonesia di Jakarta, 5 Mei 2015. Penjualan properti tahun ini diprediksi menurun 50 persen dibanding tahun sebelumnya. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Pengunjung melihat maket perumahan dalam pameran Real Estate Indonesia di Jakarta, 5 Mei 2015. Penjualan properti tahun ini diprediksi menurun 50 persen dibanding tahun sebelumnya. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Isa Rachmatawarta mengatakan masalah generasi milenial sulit untuk memiliki rumah pribadi karena adanya karakter yang lebih menekankan gaya hidup. "Ada kemungkinan, meski sudah menekankan  prioritas memiliki hunian, hal itu tak menjadi pilihan bagi generasi milenial," kata Isa di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa, 19 Desember 2017.

    Adanya perubahan gaya hidup, kata Isa, menyebabkan keinginan generasi milenial untuk memiliki hunian juga berkurang. "Fokus untuk edukasi generasi milenial boleh saja, tapi pertimbangkan aktivitas yang membuat mereka memprioritaskan untuk memiliki hunian," ujarnya.

    Baca:  Bidik Milenial, Rumah 123 Sediakan Cicilan Rp 1,5 Juta Per Bulan

    Isa mencontohkan, ketika generasi milenial menekankan gaya hidup dan pengalaman yang baru, keinginan untuk traveling pun meningkat. "Bisa saja mereka ingin pengalaman tinggal di tengah kota lain, namun ingin mendapatkan harga yang terjangkau, karena itu tidak harus memaksakan mereka untuk membeli."

    Lebih lanjut, Isa berujar, pada jaman ini generasi milenial tak terbatas pada referensi untuk tinggal pada satu tempat untuk waktu yang cukup lama. "Ada yang berpikir belum mau menetap dalam waktu yang lama, sehingga memiliki rumah bukan selalu menjadi selera mereka."

    Isa menekankan bahwa isu pada generasi milenial bukan sekedar membuat harga rumah itu menjadi terjangkau, tapi juga harus menghadirkan hunian yang memiliki pengalaman tersendiri. Karena itu, Isa mengatakan sarana pendukung perlu diperhatikan, seperti transportasi, dan pengembangan wilayah untuk kemudian bisa memenuhi kebutuhan hunian. "Bukan sekedar rumah."

    Selain itu, kata Isa, pemerintah juga tak terus-menerus menekankan pada kebutuhan untuk membeli rumah. "Kalau kami terus membuat orang untuk membeli rumah, berarti demand untuk rumah yang dimiliki akan tinggi terus."

    Lebih dari itu, menurut Isa, yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah mengedukasi generasi milenial agar tertib membayar sewa. "Kemudian memberikan lebih banyak experience tentang lokasi tersrbut, dengan begitu, harga yang terus melambung bisa terkendali."

    Country General Manager Rumah123.com, Ignatius Untung berpendapat hal yang berbeda. Menurut dia, peralihan gaya hidup pada generasi milenial harusnya bisa ditekan agar mereka bisa memiliki rumah pribadi. "Kenaikan harga pesawat untuk jalan-jalan tak sebanding dengan kenaikan harga akibat menunda untuk membeli hunian," katanya.

    JENNY WIRAHADI | RR ARIYANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.