Cadangan Aluvial Merosot Drastis, PT Timah Ekspansi ke Nigeria

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Produksi PT Timah Berpotensi Naik

    Produksi PT Timah Berpotensi Naik

    TEMPO.CO, Pangkal Pinang - Cadangan aluvial PT Timah Tbk. terus menurun hingga saat ini tersisa 300 ribu ton. Dengan persentase ekspor mencapai 30 ribu ton per tahun, dikhawatirkan akan memperpendek jangka waktu tambang perusahaan pelat merah tersebut.

    Direktur Utama PT Timah, Mochtar Riza Pahlevi Tabrani, mengatakan pihaknya sudah menyiapkan langkah-langkah untuk memperpanjang jangka waktu tambang dengan melakukan ekspansi bisnis tambang timah ke Nigeria. Selain itu perusahaan juga menerbitkan obligasi senilai Rp 2 triliun untuk pembiayaan pembaharuan peralatan tambang yang sudah tua.

    Baca: Dongkrak Kinerja Perseroan, PT Timah Garap Bisnis Properti

    "Kami masih punya cadangan underground di Bangka dan Kepulauan Riau sebanyak 800 ribu ton. Namun peralatan kerja perlu disesuaikan dan pembaharuan karena sudah dalam," ujar Riza dalam paparannya kepada Komisi VI DPR RI di Griya Timah, Selasa, 19 Desember 2017.

    Soal ekspansi bisnis ke Nigeria, kata Riza, pihaknya sudah menandatangani perjanjian dengan perusahaan tambang negara tersebut untuk pembukaan lahan tambang. Pemilihan Nigeria dikarenakan secara geologi sesuai dengan kompetensi PT Timah.

    Cadangan di Nigeria yang merupakan cadangan aluvial, menurut Riza, akan sangat memudahkan perusahaan menekan biaya. "Dari segi cost, penambangan cadangan aluvial lebih murah dan mudah ditambang karena masih lapisan atas," ujar dia.

    Riza menuturkan potensi ekspansi bisnis ke Nigeria sangat besar karena saat ini 12 ribu ton timah Nigeria dan negara Afrika sudah mulai membanjiri pasar. Potensi besar inilah yang membuat PT Timah melakukan perjanjian eksplorasi dengan perusahaan Nigeria agar tidak dikuasai negara lain. 

    Dari hasil tambang rakyat yang tercatat di Nigeria sebanyak 6 ribu ton, kata Riza, negara tersebut bakal membutuhkan teknologi untuk menambang. "Untuk hasil kita bagikan fifty-fifty," katanya. 

    Adapun estimasi biaya untuk ekspansi bisnis ke Nigeria mencapai Rp 100 miliar untuk membangun smelter dan negara akan tetap mendapatkan bagian dari pembayaran royalti. "Saat ini kita sudah mengirimkan tim eksplorasi ke Nigeria. Dan jika sudah berjalan, ini akan menjadi tambang PT Timah pertama di negara lain," tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.