Kewirausahaan Indonesia ke-90 Dunia, Jokowi: Jangan Tepuk Tangan

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden RI Joko Widodo didampingi Istri Iriana Joko Widodo bersama Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukitosaat melihat salah satu produk kerajinan pada pameran Jakarta Trade Expo Indonesia (TEI) 2016 di JiExpo Kemayoran, Jakarta,12 Oktober 2016. Dalam pameran produk-produk unggulan Indonesia TEI 2016 tersebut juga menjadi momentum bagi para pengusaha dalam dan luar negeri mendapatkan berbagai produk unggulan serta menjadi ajang pertukaran informasi mengenai produk buatan Indonesia. Tempo/Tony Hartawan

    Presiden RI Joko Widodo didampingi Istri Iriana Joko Widodo bersama Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukitosaat melihat salah satu produk kerajinan pada pameran Jakarta Trade Expo Indonesia (TEI) 2016 di JiExpo Kemayoran, Jakarta,12 Oktober 2016. Dalam pameran produk-produk unggulan Indonesia TEI 2016 tersebut juga menjadi momentum bagi para pengusaha dalam dan luar negeri mendapatkan berbagai produk unggulan serta menjadi ajang pertukaran informasi mengenai produk buatan Indonesia. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Presiden Joko Widodo mengaku sangat prihatin dengan masih rendahnya pertumbuhan jumlah wirausahawan di Indonesia dibanding negara negara lain. Merujuk data global entrepreneurship indeks tahun 2017, Jokowi menyebut peringkat kewirausahaan Indonesia berada di peringkat 90 dari 137 negara dunia.

    “Peringkat ini jangan ditepuktangani,” ujar Jokowi saat memberi kuliah umum dalam Rapat Terbuka Dies Natalis Universitas Gadjah Mada ke 68 di Yogyakarta, Selasa 19 Desember 2017.

    Baca juga: Jokowi Cerita Nasib Tukang Pos sampai Kamera Analog di UGM

    Jokowi menilai, rendahnya peringkat kewirausahaan Indonesia itu bukan prestasi membanggakan jika dibandingkan dengan prestasi-prestasi berbagai perguruan tinggi Tanah Air.

    Tak hanya berperingkat rendah di dunia, di tingkat Asia Pasifik pun peringkat kewirausahaan Indonesia merujuk data yang sama masih di posisi ke-16 dari 24 negara.

    Nasib memprihatinkan juga dialami Indonesia dalam bidang jumlah inovasi dan paten, yakni hanya menduduki peringkat ke-86 dari 137 negara.

    Menurut Jokowi, perubahan wajah dunia ke depan yang amat dipengaruhi kemajuan teknologi, turut mempengaruhi jenis pekerjaan yang tercipta. “Politisi dan birokrat selalu penting, tapi jumlahnya tak akan bertambah banyak,” ujarnya.

    Jenis pekerjaan di masa depan yang harus mulai disikapi, ujar Jokowi,  justru merujuk sejumlah profesi yang berbasis kompetensi khususnya kompetensi berstandar internasional. Mulai dokter, insinyur, farmasi, dan lainnya menurut Jokowi perlu lebih banyak ditambah jumlahnya.

    “Wirausahawan lah yang akan menghasilkan banyak peluang kerja baru untuk berbagai profesi itu,” ujarnya.

    Jokowi menuturkan pemerintahannya saat ini terus mendorong dan mengembangkan ekosistem kewirausahaan agar semakin hidup di masyarakat. Misalnya menggenjot pertumbuhan start-up business atau bisnis pemula. Jokowi menuturkan, bisnis pemula yang sudah ada pun dikawal dengan ekosistem pendukung agar naik kelas menjadi bisnis menengah lalu menjadi besar.

    “Kami bangun infrastruktur logistik demi memperkuat perdagangan yang efisien,” ujarnya.

    Jokowi menyatakan tak segan melakukan deregulasi dan debirokratisasi untuk mendorong inovasi dan efisiensi.

    “Kami bangun skema pembiayaan baru untuk memperkuat alternatif pembiayaan bagi bisnis pemula,” ujarnya.

    Baca juga: Inilah 16 Start-Up Terbaik Pilihan Koran Tempo

    Namun, ujar Jokowi, pemerintah jelas tak bisa bekerja sendirian untuk menciptakan ekosistem kewirausahaan itu melalui kebijakannya. Perguruan tinggi harus berperan strategis mencetak sumber daya manusia unggu maupun melahirkan karya riset yang inovatif agar terus lahir wirausawahan unggul.

    “Wirausahawan tak harus menghasilkan profit bagi pelakunya, tapi juga benefit bagi masyarakat luas,” ujar Jokowi .


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tata Tertib Penonton Debat Capres 2019, KPU Siapkan Kipas

    Begini beberapa rincian yang perlu diperhatikan selama debat Capres berlangsung pada Kamis, 17 Januari 2019. Penonton akan disediakan kipas oleh KPU.