Reblood, Aplikasi Startup 'Darah' dari Generasi Milenial

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kantong darah dari pendonor dalam kegiatan Hidup Sehat dan Donor Darah Bersama Senayan City, Jakarta, 13 April 2016. TEMPO/Nurdiansah

    Kantong darah dari pendonor dalam kegiatan Hidup Sehat dan Donor Darah Bersama Senayan City, Jakarta, 13 April 2016. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Sementara kebanyakan pegiat Internet sibuk merintis usaha dagang online atau membuat aplikasi startup yang menguntungkan secara finansial, lain lagi dengan Leonika Sari Njoto Boedioetomo. Dara kelahiran Surabaya 23 tahun lalu ini malah membuat Reblood, platform untuk memfasilitasi kegiatan donor darah, terutama pada kaum milenial yang akrab dengan jaringan Internet.

    Leonika, yang pernah masuk daftar tokoh muda berpengaruh versi Forbes Asia, berniat mengembangkan jaringannya ke kota besar lain. "Hingga saat ini masih ada banyak hal yang harus dikembangkan. Tantangan yang saat ini sedang dihadapi adalah bagaimana menjadikan donor darah sebagai gaya hidup sehat untuk anak muda di Indonesia," kata Leonika kepada Tempo, awal Desember 2017.

    Simak: Belajar dari Kegagalan Startup yang Layu Sebelum Berkembang

    Ide mengembangkan Reblood berawal dari kegelisahan Leonika, saat melihat kasus kekurangan stok darah. Menurut dia, rata-rata dalam setahun terjadi kekurangan 1 juta kantong darah. Di lain pihak, banyak masyarakat yang ingin menjadi donor tapi tak mengetahui cara mudahnya. Leonika pun berpikir untuk membuat aplikasi yang menghubungkan para donor dengan mereka yang membutuhkan darah. Sasarannya adalah anak muda yang akrab dengan gadget canggih dan bisa mengakses informasi dengan cepat.

    Pada 2013, Leonika bergabung dengan tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya dalam mengembangkan Blood Bank Information System (Bloobis). Bloobis adalah aplikasi yang menghubungkan Palang Merah Indonesia dengan rumah sakit untuk mempercepat distribusi darah. Namun, setelah sebagian pengembangnya lulus kuliah, aplikasi Bloobis tidak berkembang.

    Leonika pun terpikir untuk membuat pengganti Bloobis. Pada awal 2014, Leonika mendapatkan beasiswa online course entrepreneurship yang diadakan Massachusetts Institute of Technology (MIT) bekerja sama dengan Harvard University, Amerika Serikat. Dalam pelatihan bernama MITx Global Entrepreneurship Bootcamp, Leonika mendapatkan banyak masukan ihwal bagaimana mengembangkan platform donor darah. Dari sini, dia berpikir untuk membuat Reblood.

    Reblood, yang meluncur pada September 2015, berisi daftar kegiatan donor dan informasi lain yang diperlukan. Calon donor tinggal membuka aplikasi ini dan menemukan lokasi tempat kegiatan donor darah atau rumah sakit yang bisa melayani kegiatan sosial ini.

    Dengan informasi dan kemudahan yang tersedia di aplikasi ini, banyak anak muda yang tertarik menjadi donor. Kini startup Reblood sudah menggandeng 12 ribu pengguna dari Surabaya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.