Penimbunan Bahan Pokok Dilarang di Sejumlah Pasar Banjarmasin

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas pengunjung di pasar tradisional Pasar Paseban, Jakarta, 21 Oktober 2017.  Saat ini PD Pasar Jaya tengah fokus menyelesaikan revitalisasi 16 pasar tradisional hingga akhir tahun 2017. TEMPO/Subekti.

    Aktivitas pengunjung di pasar tradisional Pasar Paseban, Jakarta, 21 Oktober 2017. Saat ini PD Pasar Jaya tengah fokus menyelesaikan revitalisasi 16 pasar tradisional hingga akhir tahun 2017. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Banjarmasin - Kepala Polda Kalimantan Selatan Brigadir Jenderal Rachmat Mulyana memasang spanduk maklumat perihal larangan menimbun dan memperdagangkan bahan kebutuhan pokok (bapok) tidak sesuai dengan ketentuan di pasar. Spanduk maklumat itu dipasang di Pasar Pagi Antasari, Pasar Beras Kelayan, dan Pasar Lima, Kota Banjarmasin.

    Rachmat menuturkan kepolisian terus memperketat pengawasan distribusi bahan pangan ke semua kabupaten/kota di Kalimantan Selatan menjelang Natal dan pergantian tahun. Ia melarang pedagang menimbun bapok dan barang yang disubsidi pemerintah demi meraup keuntungan pribadi.

    "Pelaku yang melanggar akan disangkakan dengan Pasal 133 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dengan ancaman pidana penjara tujuh tahun atau denda paling banyak Rp 100 miliar," katanya, Minggu, 17 Desember 2017.

    Simak: Ketahuan Timbun Barang 3 Bulan, Siap-siap Disidak

    Ia telah melakukan inspeksi mendadak ke Pasar Antasari, Pasar Beras Kelayan, dan Pasa Lima untuk memastikan harga kebutuhan pokok tetap stabil. Rachmat mengklaim harga sembako relatif stabil karena belum ada gejolak harga menjelang Natal.

    Rachmat meminta instansi teknis dan pemangku kepentingan lain dapat meningkatkan pengawasan distribusi dan barang kebutuhan pokok yang disubsidi pemerintah untuk menekan gejolak harga.

    Sebelumnya, Polda Kalimantan Selatan menggerebek pangkalan elpiji 3 kilogram di Jalan Gunung Sari Ujung, Kelurahan Teluk Dalam, Kota Banjarmasin, pada Jumat pekan lalu. Polisi menduga pangkalan itu menyelewengkan distribusi elpiji 3 kg dan menjual jauh di atas harga eceran tertinggi.

    Juru bicara Polda Kalimantan Selatan, Ajun Komisaris Besar Mochamad Rifai, mengatakan pangkalan elpiji milik Siti Syahrida dan Febrian Rizadi itu kerap menerima pasokan elpiji di luar ketentuan. Menurut Rifai, pangkalan semestinya hanya menerima kiriman dari agen elpiji PT Akomigas.

    “Nyatanya juga menerima pasokan dari PT KIP, PT Indowax Sumber Batuah, dan PT Abadi Gunung Raja tanpa kontrak kerja sama,” ucapnya.

    Adapun Kepala Bulog Divisi Regional Kalimantan Selatan Dedi Supriyadi mengatakan telah menggelar operasi pasar besar cadangan beras pemerintah di Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar. Operasi pasar berlangsung hingga 31 Desember dengan menggelontorkan 300 ton beras.

    Kalau pun beras sudah ludes sebelum operasi pasar rampung, Dedi akan menambah pasokan karena ada cadangan 15 ribu ton beras di Kalimantan Selatan. Selain beras, ia menjual murah komoditas sembako lain, seperti minyak goreng, gula, dan bawang putih. “Minyak dijual Rp 12 ribu per liter, gula Rp 12 ribu per kilogram, dan bawang putih dijual Rp 15 ribu per kilogram. Kami menjualnya di operasi pasar dan Rumah Pangan Kita,” ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.