2018, BRI Kuasai 50 Persen Saham di Bahana Artha Ventura

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bank BRI. ANTARA/Rosa Panggabean

    Bank BRI. ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI berencana meningkatkan persentase akuisisi saham PT Bahana Artha Ventura (BAV) hingga lebih dari 50 persen pada tahun depan. Direktur Utama BRI Suprajarto mengatakan rencana itu diharapkan terealisasi pada kuartal I 2018.

    "Keinginan kami kuartal I, mudah-mudahan," katanya di Jakarta Convention Center, Jakarta, Ahad, 17 Desember 2017.

    Simak: BRI Jadi Bank Pemilik Jaringan ATM Terbanyak di Indonesia

    Kendati begitu, Suprajarto mengakui realisasi tersebut bakal menempuh proses panjang. "Ini kan urusannya dia dimiliki BPUI (Bahana Pembinaan Usaha Indonesia), BPUI dimiliki kementerian, prosesnya panjang," ujarnya.

    Per akhir November lalu, BRI resmi memiliki 35 persen saham PT Bahana Artha Ventura dengan nilai akuisisi Rp 71,21 miliar. Akuisisi itu mengubah kepemilikan saham PT BPUI di Bahana Artha Ventura dari 99,45 persen menjadi 64,65 persen serta saham Koperasi Karyawan BPUI dari 0,55 persen menjadi 0,35 persen.

    Suprajarto menuturkan, jika saham BRI sudah mayoritas di BAV, pihaknya akan mempertimbangkan menggandeng perusahaan financial technology (fintech).

    "Fintech masih kami pertimbangkan. Karena kami belum mayoritas, kami akan kaji lagi. Kalau kami sudah mayoritas, baru akan bisa," ucapnya.

    Untuk saat ini, kata Suprajarto, BRI akan memaksimalkan peluang setelah akuisisi saham BAV, salah satunya potensi bisnis terkait dengan modal ventura.

    "Kami akan maksimalkan. Nanti kami akan punya platform-platform yang akan kami taruh di sana. Termasuk di dalamnya adalah untuk Jalin (PT Jalin Pembiayaan Nusantara), mungkin yang kami masukkan adalah modal ventura," tuturnya.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).