PP Properti Anggarkan Rp 1,12 T untuk Bebaskan Lahan di 2018

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Keuangan PT PP Properti Indaryanto berbicara kepada wartawan di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, 14 Desember 2017. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    Direktur Keuangan PT PP Properti Indaryanto berbicara kepada wartawan di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, 14 Desember 2017. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pembangunan Perumahan Properti Tbk atau PP Properti menganggarkan sekitar Rp 1,12 triliun belanja modal tahun depan untuk pembebasan lahan. Direktur Keuangan PT PP Properti Indaryanto mengatakan sebagian besar yang dibebaskan adalah lahan proyek infrastruktur penunjang Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kabupaten Majalengka.

    “Kami perkirakan Rp 1,6 triliun untuk capex properti. Itu cukup besar, karena yang sekarang pengadaan lahan banyak sekali," ucap Indaryanto di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Kamis, 14 Desember 2017. "Untuk lahan sendiri, lebih-kurang 70 persen dari Rp 1,6 triliun.” 

    Baca: PP Properti Siap Garap 9 Proyek Baru Hingga 2018

    Adapun sisanya, ujar Indaryanto, akan dialokasikan untuk menyelesaikan pembangunan hotel, mal, dan sejumlah proyek PP Properti yang berkode emiten PPRO yang lain. Sejauh ini, PP Properti telah mengakuisisi seluas 120 hektare untuk proyek BIJB. Dia menargetkan 150 hektare lagi dapat dibebaskan pada pekan depan. Di tempat tersebut, tutur Indaryanto, nantinya akan dibangun tiga tower apartemen untuk cabin crew BIJB.

    Indaryanto mengatakan belanja modal itu akan disumbang dari surat obligasi dan medium term note (MTN). Kendati begitu, Indaryanto enggan merinci berapa belanja modal yang akan berasal dari pendanaan eksternal itu. Dia hanya berujar, surat utang bakal diterbitkan pada semester pertama 2018. “Dari hasil analisis kami, semester I momentum yang luar biasa untuk penerbitan tadi, bunga belum naik,” ucapnya.

    Indaryanto menuturkan PP Properti tengah menghitung besaran obligasi dan MTN dalam bentuk penawaran umum berkelanjutan (PUB). Dia mengatakan dua opsi ini dipilih lantaran masih dipandang menarik oleh investor. “Saya sudah menerbitkan MTN Rp 1,2 triliun, sudah habis semua,” ucap Indaryanto.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.