E-Book Dikenai Bea Masuk, Penerbit Konvensional Belum Terpengaruh

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • "Buku juga harus harus bisa diakses dengan mudah. Maka itulah e-book sangat kita perlukan,"

    TEMPO.CO, Jakarta - Penerapan bea masuk bagi buku elektronik atau e-book yang dijualbelikan secara online dari luar negeri belum akan berpengaruh signifikan terhadap perkembangan industri penerbit buku konvensional. Salah satunya karena penjualan e-book selama ini di Indonesia masih jauh lebih rendah dibanding penjualan buku konvensional.

    “Sebagian orang Indonesia masih suka baca melalui kertas, tapi bagaimana tren ke depannya, saya belum bisa sampaikan, karena belum ada riset khusus soal itu,” kata Public Relations PT Gramedia Pustaka Utama, Dionisius Wisnu, saat dihubungi Tempo, di Jakarta, Selasa, 12 Desember 2017.

    Baca: Sri Mulyani: Barang Tak Berwujud Bakal Dikenakan Bea Masuk

    Pernyataan Wisnu ini merespons rencana pemerintah yang akan mengenakan bea masuk untuk barang tak berwujud (intangible goods), seperti e-book dan perangkat lunak atau software yang dibeli secara online dari luar negeri, mulai Januari 2018. Penerapan bea masuk ini bertujuan menambah potensi penerimaan negara.

    Di sisi lain, pengenaan bea masuk ini disebut-sebut bakal mendorong industri penerbit buku konvensional Tanah Air. Terutama karena saat ini sudah mulai terjadi pergeseran tren membaca buku, dari yang konvensional ke e-book.

    Meski begitu, Wisnu mengatakan kehadiran e-book di Indonesia sejauh ini masih sebagai pendamping, belum sampai memakan pasar buku konvensional. Meski penjualan buku konvensional memang tidak meningkat, bahkan cenderung menurun, tren tersebut, menurut dia, tidak bisa dipandang hanya karena kehadiran e-book.

    Untuk Gramedia, Wisnu belum bisa memastikan berapa perbandingan nilai penjualan antara buku konvensional dan e-book. “Saya harus pastikan dulu, tapi yang jelas masih jauh lebih tinggi buku konvensional,” ucapnya.

    Menurut Wisnu, Gramedia juga tidak semata menerbitkan buku konvensional, tapi juga telah masuk pada pasar e-book. Sejumlah buku dari Gramedia Group telah diterbitkan sendiri melalui aplikasi Scoop. “Karena e-book itu pasarnya luas, Gramedia sudah punya e-book market (pasar untuk e-book) sendiri.”

    Dampak dari penerapan bea masuk untuk e-book luar negeri terhadap Gramedia dinilai tidak akan banyak. Wisnu menyebut harga e-book dari luar negeri mungkin akan naik, sehingga pembaca mencari e-book terbitan dalam negeri. “Mungkin itu saja sedikit keuntungan untuk penerbit,” tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.