Direktur BEI Bicara Yerusalem hingga Kebijakan Mengerikan Trump

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama BEI Tito Sulistio saat menghadiri peluncuran PT Kioson Komersial Indonesia Tbk di Bursa Efek Indonesia,  Oktober 2017. TEMPO/M JULNIS FIRMANSYAH

    Direktur Utama BEI Tito Sulistio saat menghadiri peluncuran PT Kioson Komersial Indonesia Tbk di Bursa Efek Indonesia, Oktober 2017. TEMPO/M JULNIS FIRMANSYAH

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai Yerusalem sebagai ibu kota Israel bisa mempengaruhi pasar modal di Indonesia. Menurut Tito, pernyataan tersebut bisa membuat ketidakstabilan dan ketidakpastian politik internasional.

    "Terus terang, itu menakutkan, bisa mempengaruhi financial market," katanya di gedung BEI, Jakarta Pusat, Senin, 11 Desember 2017.

    Menurut Tito, pernyataan Trump itu dapat mempengaruhi nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika. Nantinya, kata dia, dolar Amerika yang menguat terhadap rupiah bisa mengganggu stabilitas pasar modal di Indonesia.

    Simak: Dirut BEI Buktikan Politik Tak Pengaruhi Laju IHSG

    Sebelumnya, Trump mengeluarkan kebijakan yang menyatakan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Kebijakan itu sekaligus membalik kebijakan luar negeri Amerika selama tujuh dekade terakhir. Pemerintahan Trump juga telah memulai memindahkan Kedutaan Besar Amerika dari Tel Aviv ke Yerusalem.

    Selain itu, Tito menilai kebijakan ekonomi Trump kerap sangat proteksionis bagi domestik Amerika. Kebijakan itu di antaranya reformasi perpajakan hingga kebijakan-kebijakan bank sentral Amerika, Federal Reserve (The Fed), yang sering tidak mempertimbangkan efek global.

    "Saya lihat kebijakan ekonomi Amerika ini sangat inward looking. Dampaknya bisa memperkuat dolar dan itu yang mengerikan," ujar Tito.

    Efeknya, Tito melanjutkan, kebijakan-kebijakan itu bisa membuat pasar finansial, termasuk pasar saham di Indonesia, bergejolak. Karena itu, menurut Tito, para pelaku pasar perlu mewaspadai hal ini. "Kita harus waspada," ucap pejabat BEI itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.