Bitcoin Populer, Bank Indonesia: Bukan Alat Pembayaran Sah

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bitcoin. REUTERS

    Bitcoin. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap enteng risiko yang mungkin muncul dari investasi mata uang digital atau cryptocurrency bernama Bitcoin.

    "Jadi saya ingin mengatakan risiko itu adalah sesuatu yang jangan diambil enteng. Itu adalah sesuatu yang jangan kemudian disesali kalau seandainya ada masyarakat yang ingin lebih jauh mengetahui tentang Bitcoin," katanya saat ditemui di kompleks Bank Indonesia, Jakarta, Senin, 11 Desember 2017.

    Dia menuturkan Bitcoin tidak dijamin dan merupakan investasi yang tidak diakui di Indonesia saat ini. Selain itu, kata dia, Bitcoin bukan merupakan alat pembayaran yang sah.

    "Jadi saya selalu mengatakan kepada masyarakat untuk paham bahwa ada risiko dengan instrumen Bitcoin," ucap Agus.

    Baca: Membuat Sri Mulyani Khawatir, Apa Itu Bitcoin?

    Bank Indonesia selaku regulator juga telah mengimbau masyarakat agar tidak berinvestasi dengan mata uang digital, tapi memilih produk investasi lain yang lebih sehat dan dijamin.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap masyarakat tidak berspekulasi untuk berinvestasi mata uang digital, di antaranya Bitcoin, yang kini mulai dilirik sebagai suatu produk investasi.

    "Bagi Indonesia, yang tampaknya sering dimunculkan karena harganya makin tinggi, ini dilirik sebagai suatu bentuk investasi. Tapi kami tidak berharap terjadi spekulasi atau bubble yang kemudian bisa merugikan," ujarnya di Jakarta, Kamis, 7 Desember 2017.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Depresi Atas Gagal Nyaleg

    Dalam pemilu 2019, menang atau kalah adalah hal yang lumrah. Tetapi, banyak caleg yang sekarang mengalami depresi karena kegagalannya.