Ini Penyebab Ekonomi Kaltim Masih Tergantung Pada Harga Batu Bara

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi tambang batubara. ANTARA/Muhammad Adimaja

    Ilustrasi tambang batubara. ANTARA/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Samarinda -Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur (BI Kaltim) memprediksi pertumbuhan ekonomi di provinsi itu mencapai 3,5 persen. Angka itu alami peningkatan dari dua tahun sebelumnya dimana ekonomi Kaltim selalu alami kontraksi. Penyebabnya, harga komoditas batu bara yang mengalami peningkatan.

    “Sejumlah infrastruktur Kaltim masih dalam proses pembangunan dan belum bisa digunakan. Pengaruh sektor pertambangan terhadap pertumbuhan ekonomi capai 46 persen. Faktor harga masih jadi penentu. Bisa lihat harga komoditas karena korelasi cukup tinggi,” kata Kepala Tim Advisory Ekonomi Dan Keuangan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur (BI Kaltim), Harry Aginta, di Samarinda, 8 Desember 2017.

    Harry menegaskan, secara kuantitas produksi batu bara di Kaltim hampir sama, namun perubahan atau adanya kenaikan harga komoditas itulah yang diakui menjadi meningatknya pertumbuhan ekonomi dibandingkan dua tahun sebelumnya.

    “Itu tidak mencerminkan secara riil pertumbuhan ekonomi. Misalnya harga komoditas tetap, ya tetap minus (pertumbuhan ekonominya),” kata Harry.

    Baca : Tiga BUMN Gandeng Swasta Kerjasama Hilirisasi Batu Bara

    Sementara, karena infrastruktur masih banyak yang belum rampung, sektor konstruksi hanya menyumbang pengaruh pertumbuhan ekonomi sekitar 0,8 persen.

    “Berasal dari pembangunan infrastruktur yang sedang dilakukan pemerintah saat ini. Seperti jalan tol, jembatan (dan Bandara baru Samarinda). Dalam proses pengerjaannya saja sudah memberi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi,” kata Harry.

    Jika infrastruktur itu rampung, Harry meyakini akan memberikan pengaruh signifikan. Seperti menarik minat daya tarik investor karena akan membuat biaya logistik untuk menjalankan usaha di Kaltim akan lebih murah.

    “Mungkin investor yang menunggu masuk Kaltim, masih menunggu infrastruktur siap. Dengan adanya ini (infrastruktur), biaya logistik membangun pabrik akan murah, secara hitungan bisnis masuk. Katakan di Maloy atau KIK. Itu yang membuat daya saing Kaltim membaik. Salah satu faktor yang dilihat, tentu akan lebih tinggi lagi dampaknya,” ungkap Harry.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.