Sabtu, 18 Agustus 2018

Luncurkan Nexticorn, Rudiantara Bermimpi Cetak Banyak Unicorn

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara pada pemaparannya saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR RI di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 28 November 2017. Rapat ini membahas konten negatif di internet, registrasi ulang kartu prabayar dan perkembangan infrastruktur sektor telekomunikasi dan penyiaran di daerah perbatasan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara pada pemaparannya saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR RI di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 28 November 2017. Rapat ini membahas konten negatif di internet, registrasi ulang kartu prabayar dan perkembangan infrastruktur sektor telekomunikasi dan penyiaran di daerah perbatasan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah optimistis target lima perusahaan rintisan teknologi yang menjadi unicorn di Indonesia dapat tercapai pada 2019, bahkan berpotensi melampauinya. Unicorn merupakan tahapan ketika perusahaan rintisan telah memiliki valuasi US$ 1 miliar.

    Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara meyakini hal tersebut karena melihat kondisi dan potensi Indonesia saat ini, yang pada 2017 memiliki empat unicorn, yaitu Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. "Belum tahu. Kami tidak bisa memastikan unicorn itu ada berapa, tapi saya yakin lebih dari lima jadinya," katanya, Jumat, 8 Desember 2017.

    Namun dia mengatakan jumlah pastinya tidak diketahui karena faktornya bergantung pada transaksi atau investasi yang terjadi. "Yang pemerintah bisa lakukan adalah memberikan iklim yang kondusif atas investasi," ujarnya.

    Rudiantara mencontohkan, terkait dengan aturan daftar negatif investasi (DNI), pemerintah melakukan perubahan sehingga investasi bisa cepat masuk. "Unicorn cepat kan sejak DNI direvisi pada 2016," ucapnya.

    Dari jumlah perusahaan rintisan yang berhasil menjadi unicorn di Asia Tenggara, mayoritasnya berasal dari Indonesia dan beberapa di antaranya memiliki pasar di Tanah Air.

    Dia menambahkan, program The Next Indonesian Unicorns (Nexticorn) menjadi langkah berikutnya untuk menampilkan Indonesia beserta para startup-nya kepada investor global dan nasional agar dapat memperoleh pendanaan (funding).

    Sebelum peluncuran resmi ini, pemerintah juga telah melakukan pertemuan dengan beberapa investor potensial, seperti investor dari Jepang, di Jakarta dan San Fransisco.

    "Ada beberapa yang nyangkut, artinya deal, sudah sepakat, tinggal pendalamannya seperti apa," kata Rudiantara.

    Pada 2018, Nexticorn telah merancang program untuk dapat mempertemukan perusahaan rintisan dengan para investor di beberapa acara, baik lokal maupun global. Setidaknya, ada 12 kegiatan besar di komunitas startup yang ditargetkan, seperti IESE, VentureCon, dan Techcrunch.

    "Rencananya dalam setahun ada roadshow promosi, ini lebih tertata dan terstruktur," katanya.

    Tidak hanya itu, untuk memperkuat basis data, perusahaan rintisan yang telah memenuhi persyaratan dapat mendaftar dan bisa ditampilkan di situs. Tujuannya, memperluas kesempatan perusahaan rintisan bertemu dengan investor. "Ini (NextIcorn) seperti marketplace antara startup dan investor," tuturnya.

    Dia mengatakan tingkat kesuksesan perusahaan rintisan masih rendah sekitar 3 persen. Bahkan di antara ratusan perusahaan rintisan hanya beberapa yang mampu bertahan dan berkelanjutan.

    "Pemerintah memfasilitasi, yang mengerti ekosistem juga terlibat, karena pertumbuhan cepat, pemerintah step in, buat program yang terstruktur," ucap Rudiantara.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika Liku Crazy Rich Asians

    Film komedi romantis Crazy Rich Asians menarik banyak perhatian karena bersubjek keluarga-keluarga superkaya Asia Tenggara. Berikut faktanya.