IHSG Menguat Tipis Dipengaruhi Aksi Ambil Untung

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

    Tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat sebesar 0,04 persen pada level 6.000,47 hari ini, Selasa, 5 Desember 2017. Pagi tadi IHSG dibuka pada level 6.021,08 dan bergerak pada kisaran 5.979,48 hingga 6.026,41.

    Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menyebut penutupan IHSG hari ini mengalami penguatan tipis dibandingkan kemarin yang ditutup pada level 5.998,190. Kendati begitu, Reza berpendapat penguatan kemarin lebih signifikan ketimbang hari ini.

    “Kalau kita lihat kondisi pasar hari ini memang cenderung mengalami pelemahan dibandingkan kemarin yang sempat menguat secara signifikan,” kata Reza kepada Tempo, Selasa, 5 Desember 2017.

    Simak: Pernyataan Menteri Darmin Picu Penguatan IHSG

    Reza mengatakan, kondisi ini masih dipengaruhi oleh aksi ambil untung (profit taking) dengan memanfaatkan kenaikan sebelumnya, serta lantaran kondisi pasar saham Asia yang cenderung mengalami pelemahan. “Akhirnya pasar memanfaatkan sentimen tersebut untuk profit taking di hari ini,” ujarnya.

    Reza memaparkan, sentimen pasar cenderung masih sama dengan yang terjadi pekan sebelumnya. Faktor eksternal antara lain dipengaruhi oleh kondisi global seperti rencana pengesahan program reformasi perpajakan Amerika yang belum mencapai kesepakatan. Adapun sentimen dalam negeri, kata Reza, sebenarnya turut terbantu dengan angka inflasi yang dirilis Badan Pusat Statistik kemarin. BPS mengumumkan tingkat inflasi pada bulan November sebesar 0,20 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,01 persen (month to month).

    “Biasanya adanya kenaikan inflasi direspon negatif, tapi ini walaupun inflasi naik, impact ke pasar tidak terlalu negatif,” kata Reza.

    Reza mengatakan, sektor perbankan masih mendominasi penguatan pasar saham hari ini. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) misalnya, mengalami penguatan sebesar 2,74 persen dari penutupan IHSG kemarin.

    Adapun yang cenderung mengalami pelemahan, kata Reza, yakni sektor konstruksi misalnya PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT). Saham Waskita mengalami pelemahan sebesar 6,25 persen pada penutupan IHSG hari ini.

    Reza berpendapat pelemahan saham Waskita sebenarnya tidak bersifat fundamental. Pelemahan itu, menurut dia, dipengaruhi sentimen negatif akibat peristiwa kasuistik. “Terkait dengan penutupan salah satu tol mereka (tol Pasuruan-Probolinggo), itu yang akhirnya yang membuat pasar merespons negatif untuk melakukan aksi jual,” ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.