Aksi Jual Beli Masif, IHSG Diperkirakan Masih Melemah Pekan Depan

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

    Tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

    TEMPO.CO, Jakarta-Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambodo memperkirakan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) berada pada kisaran level support 5.923-5.943 dan resisten 5.987-6.002 pada pekan depan, 4-8 Desember 2017. Indeks ini turun dari pekan sebelumnya yakni level support 6.004-6.028 dan resisten 6.075-6.095.

    Reza mengatakan aksi jual masif yang terjadi di akhir pekan membawa IHSG ke zona merah dan menjauhi level psikologis 6.000. Namun, pergerakan variatif dimungkinkan sebab tidak ada masalah fundamental dari pelemahan tersebut.

    "Diharapkan aksi beli kembali terjadi dengan memanfaatkan pelemahan tersebut, sehingga IHSG dapat menemukan peluang rebound kembali," kata Reza melalui siaran tertulisnya, Minggu, 3 Desember 2017.

    Baca: IHSG Turun 1,89 Persen Selama Sepekan 

    Reza berharap pelaku pasar sebaiknya tidak menggunakan memanfaatkan IHSG untuk jual beli masif.

    "Tetap cermati berbagai sentimen yang dapat menahan peluang kenaikan IHSG serta waspadai potensi pelemahan akibat aksi ambil untung," ujarnya.

    Pergerakan IHSG di pekan ini, 27 November-1 Desember 2017, berbalik melemah dengan penurunan 1,89 persen. Pekan sebelumnya, IHSG naik 0,255 persen.

    High level yang diraih yakni 6.073, turun dari sebelumnya di angka 6.098. Sedangkan level terendah yang dicapai yakni 5.952 dari sebelumnya 6.008.

    Menurut Reza, pergerakan IHSG cendering melemah seiring aksi jual yang memanfaatkan kenaikan sebelumnya. Faktor yang menjadi penghalang IHSG sulit naik kembali yakni melemahnya laju bursa saham Asia yang dibarengi dengan berbalik melemahnya laju rupiah.

    Pergerakan IHSG mengakhiri bulan November di zona merah. Menurut Reza, sebenarnya tidak ada sentimen negatif yang membuat IHSG terus mengalami pelemahan dalam. Namun, dari sisi perdagangan terlihat volume yang besar dalam penjualan.

    "Dari data yang diperoleh, penjualan saham dilakukan oleh tujuh sekuritas asing terbesar yang bertujuan untuk melakukan rebalancing portofolio yang bertujuan melakukan short covering di awal Desember," ujar Reza.

    Menurut data yang dipaparkan Reza, asing mencatatkan penjualan bersih (nett sell) Rp 8,44 triliun dari penjualan bersih (nett buy) Rp 2,17 pekan sebelumnya. Adanya aksi jual asing ini memperbesar nilai penjualan bersih pada pekan kemarin. Nilai jual bersih transaksi asing tercatat Rp 35,29 triliun, menigkat dari sebelumnya Rp 26,85 triliun (year to date).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?