Kekayaannya akan Dicek, Fredrich Yunadi: Tak Ada yang Saya Tutupi

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fredrich Yunadi pengacara Setya Novanto memberi keterangan kepada media di RSCM Kencana, Jakarta, 19 November 2017. Fredrich mengatakan tersangka kasus korupsi proyek e-KTP itu hanya mampu berbicara sedikit, kemudian langsung tertidur saat diperiksa dokter dari IDI. Tempo/Fakhri Hermansyah

    Fredrich Yunadi pengacara Setya Novanto memberi keterangan kepada media di RSCM Kencana, Jakarta, 19 November 2017. Fredrich mengatakan tersangka kasus korupsi proyek e-KTP itu hanya mampu berbicara sedikit, kemudian langsung tertidur saat diperiksa dokter dari IDI. Tempo/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi, tidak mengkhawatirkan rencana penelusuran terhadap kekayaannya oleh Direktorat Jenderal Pajak gara-gara beredar video tentang hobinya berjalan-jalan ke luar negeri dengan biaya miliaran rupiah.

    "Silakan saja Ditjen Pajak telusuri sebagai tugas dan tanggung jawab mereka. Saya rakyat Indonesia yang patuh pajak dan tidak ada yang saya tutupi," katanya saat dihubungi Tempo, Selasa, 28 November 2017.

    Baca juga: Sri Mulyani Senang Pengacara Setnov Pamer Kemewahan

    Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pernyataan pengacara Setya itu bisa segera ditindaklanjuti petugas pajak. Namun ia memastikan jalannya pemeriksaan Direktorat Jenderal Pajak terhadap Fredrich tak akan diungkap ke publik karena menyangkut kerahasiaan wajib pajak.

    Dalam wawancara dengan Najwa Shihab, yang diunggah ke YouTube, Fredrich mengaku senang bergaya hidup mewah selama ini. Dalam wawancara itu juga dia mengaku terbiasa menghabiskan uang miliaran saat melancong ke luar negeri.

    "Saya suka mewah. Saya kalau ke luar negeri, sekali pergi itu minimum saya spend Rp 3 M, Rp 5 M. Yang sekarang, tas Hermes yang harganya Rp 1 M juga saya beli. Saya suka kemewahan," tutur Fredrich Yunadi dalam video wawancara dengan Najwa pada Jumat pekan lalu, 24 November 2017.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).