Depresiasi Dolar AS, Rupiah Diproyeksi Menguat

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mata uang Rupiah. Brent Lewin/Bloomberg via Getty Images

    Ilustrasi mata uang Rupiah. Brent Lewin/Bloomberg via Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis Binaartha Securitas Nafan Aji memperkirakan rupiah akan menguat hari ini. "Range rupiah hari ini adalah 13.450 hingga 13.575," kata Nafan Aji saat dihubungi Tempo, Senin, 27 November 2017.

    Nafan menilai hal tersebut lantaran disebabkan oleh depresiasi Dolar Amerika Serikat terhadap berbagai instrumen mata uang lainnya.

    "Adapun data ekonomi manufaktur PMI(Purchasing Manager's Index), maupun jasa PMI AS menunjukkan hasil yang tidak sesuai dengan ekspektasi dari para pelaku pasar," ujar Nafan Aji.

    Sebelumnya menurut Nafan pada Kamis lalu, terdapat pernyataan The Federal Open Market Committee(FOMC) yang menunjukkan sikap dovish terhadap dolar AS karena merasa bahwa tingkat inflasi di AS tidak sesuai dengan ekspektasi yang diinginkan.

    "Namun demikian, potensi untuk kenaikan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 bps pada Desember nanti masih terbuka lebar," kata Nafan Aji.

    Baca: Sentimen Positif Diprediksi Bakal Dorong Penguatan Rupiah

    Sedangkan, menurut Reza Priyambada, diperkirakan rupiah akan bergerak dengan kisaran pada support 13.518 dan resisten 13.490.

    Reza menilai masih positifnya sentimen dari dalam negeri dapat memberikan kesempatan pada rupiah untuk kembali menguat. "Ditambah dengan sentimen masih melemahnya laju dolar AS sehingga nantinya dapat berimbas positif pada masih berlanjutnya apresiasi dari rupiah," kata Reza.

    Situs resmi Bank Indonesia, tercatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada Rp 13.506 pada 24 November 2017. Reza melihat pelaku pasar memanfaatkan kondisi tersebut untuk melepas posisi pada dolar AS.

    Di sisi lain, menurut Reza munculnya penilaian positif terhadap perkembangan ekonomi Eropa memberikan sentimen positif pada EUR sehingga mampu bergerak melampaui dolar AS.

    "Imbasnya tentu mata uang lainnya terlihat menguat terhadap dolar AS, termasuk rupiah. Sementara itu, sentimen dari permasalahan holding BUMN dan cenderung melemahnya IPO saham-saham BUMN tidak terlalu menjadi penghalang pergerakan rupiah," kata Reza Priyambada.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.