IHSG Diprediksi Menguat hingga Pekan Depan

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

    Tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) periode 27-30 November berpeluang kembali meningkat. Indeks diprediksi berada di kisaran level support 6.004-6.028 dan resisten 6.075-6.095. 

    Reza menuturkan IHSG berpeluang meningkat pekan depan didorong pencapaian indeks di pekan ini yang menyentuh level tertinggi terbarunya. IHSG berhasil mencapai level 6.098, melebihi level tertinggi sebelumnya, yaitu 6.092.

    "Tapi, seperti biasanya, kenaikan tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk aksi ambil untung," kata Reza, seperti dilansir dari keterangan tertulisnya, Ahad, 26 November 2017. Dia mengatakan aksi ambil untung dapat mengganggu peluang kembali terjadinya kenaikan.

    Menurut Reza, pergerakan variatif menguat masih dimungkinkan jika pelaku pasar dapat bertahan dalam aksi belinya. Dia pun berharap kondisi IHSG tidak dimanfaatkan untuk aksi jual masif.

    Reza mengimbau pelaku pasar tetap mencermati berbagai sentimen yang dapat menahan peluang kenaikan IHSG. "Serta waspadai potensi pelemahan akibat aksi ambil untung," tuturnya.

    Baca: IHSG Diprediksi Tembus 6.600 di 2018, Apa Faktor Penyokongnya? 

    IHSG sepanjang pekan ini tercatat naik 0,25 persen ke level 6.067,14 poin dari level 6.051,73 poin pada akhir pekan sebelumnya. Reza mengatakan pergerakan rupiah yang terapresiasi dan aksi beli yang bertahan membuat pergerakan IHSG mampu bertahan dalam tren kenaikannya. 

    Pergerakan IHSG di awal pekan tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Indeks sempat menguat dan menyentuh level tertinggi terbarunya, tapi tidak lama kemudian cenderung melemah dengan adanya aksi ambil untung. "Mulai variatif melemahnya laju bursa saham Asia membuat pergerakan IHSG mulai surut," ujar Reza. 

    Saat penguatan terjadi pada bursa saham Asia, pergerakan IHSG cenderung mengalami pelemahan seiring dengan maraknya aksi jual yang memanfaatkan kenaikan sebelumnya untuk aksi ambil untung. Beberapa berita positif dari para emiten tidak cukup kuat mengangkat IHSG berbalik ke zona hijaunya.

    Setelah melemah, laju IHSG kembali menguat, merespons positif terhadap kembali terapresiasinya rupiah. Pergerakan IHSG pun hampir mendekati level tertinggi sebelumnya ta[o tidak lama kembali turun tipis. Selain itu, menguatnya laju bursa saham Amerika dan Asia turut berimbas pada kenaikan IHSG.

    Pergerakan IHSG menjelang akhir pekan cenderung berbalik melemah. Investor mulai melakukan aksi jual seperti yang dikhawatirkan sebelumnya. Sentimen negatif datang dari pelemahan bursa saham Asia. Namun IHSG bergerak naik akibat didorong rupiah dan aksi beli menjelang penutupan.

    Asing mencatatkan nett buy Rp 2,17 triliun dari pekan sebelumnya nett sell Rp 3,76 triliun. Meski telah tercatat ada aksi beli, hingga pekan ini nilai transaksi asing tercatat jual bersih Rp 26,85 triliun di atas sebelumnya Rp 29,02 triliun (year-to-date).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.