Cara Tim Cyber Polri Identifikasi Penipu Online dan Penyebar Hoax

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan Situs Penipuan Online Diblokir

    Ribuan Situs Penipuan Online Diblokir

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada sejumlah cara Polri mengidentifikasi  penipu online maupun penyebar hoax melalui internet. “Berbasis data dan laporan yang kami terima,” kata Kasubnit II Cyber Crime Bareskrim Polri, Grawas Sugiharto, saat ditemui di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis, 23 November 2017.

    Grawas menjelaskan cara mengidentifikasi pelaku hoax, yaitu setelah mendapat laporan masyarakat, tim Cyber melakukan penyelidikan online. “Ada data open source dan data dari intelijen,” ujar Grawas.

    Baca juga: Polisi Ungkap Penipuan Iklan Jual Beli Mobil di Situs OLX

    Data tersebut akan merujuk ke nama pemiliki akun. “Kemudian  baru kami bisa menangkap si pelaku.”

    Untuk penipuan online, Grawas mengingatkan agar para pelapor memberikan data yang jelas terkait nama, nomor telepon, maupun nomor rekening pelaku dan pelapor.

    Dalam memproses kasus penipuan online,  tim juga memerlukan bantuan dari operator dan akun-akun yang terkait. “Akan dilakukan scientific crime investigastion untuk bisa menemukan pelakunya,” kata dia.

    Ia memberi contoh, rata-rata pengguna online tertipu situs internet tertentu. Setelah mendapat data yang jelas tentang penipuan di situs-situs tertentu, Tim bisa membuat peringatan ke masyarakat agar mewaspadai jika berhubungan dengan situs tersebut.

    Selain mendapat nama situs penipuan, peringatan juga dilakukan berdasarkan modus operandi, atau penawaran produk dan jasa yang tergabung dalam kegiatan penipuan online.

    Grawas mengatakan ada 75 aduan per hari penipuan di internet dan media sosial. “Rata-rata, kerugian yang ditimbulkan Rp 5 juta per harinya.” Angka tersebut didapat hanya dari masyarakat yang melaporkan.  

    Bulan ini sampai dengan 16 November 2017, kerugian akibat penipuan online terhitung Rp 79,688 juta. “Sekarang mungkin sudah bertambah menjadi sekitar Rp 200 juta.” Dari sekian laporan yang diterima, angka kerugian terbesar Rp 12 juta dan terkecil Rp 100 ribu.

    Grawas mengatakan selama ini kegiatan pencegahan terhambat karena belum adanya database yang terstruktur. Karena itu, pada Januari 2018 akan terbit aplikasi yang diharapkan bisa mengkoordinasi kegiatan e-commerce.

    Grawas telah menghubungi idEA (Indonesia E-Commerce Association) untuk mendata e-commerce yang ada di Indonesia guna mengurangi gerak penipu online.

    JENNY WIRAHADI | YY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Cara Perlawanan 75 Pegawai KPK yang Gagal TWK

    Pegawai KPK yang gagal Tes Wawasan Kebangsaan terus menolak pelemahan komisi antirasuah. Seorang peneliti turut menawarkan sejumlah cara perlawanan.