Gunung Agung Meletus, Pertemuan IMF-World Bank Tak Dibatalkan

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Asap kelabu menyembur dari puncak Gunung Agung terpantau dari Pos Pengamatan Gunung Api Agung, Desa Rendang, Karangasem, Bali, Rabu 22 November 2017. ANTARA/Nyoman Budhiana

    Asap kelabu menyembur dari puncak Gunung Agung terpantau dari Pos Pengamatan Gunung Api Agung, Desa Rendang, Karangasem, Bali, Rabu 22 November 2017. ANTARA/Nyoman Budhiana

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan memastikan perhelatan Annual Meeting IMF-World Bank 2018 akan tetap digelar di Nusa Dua, Bali. Luhut mengatakan letusan Gunung Agung tidak membuat pemerintah mengubah lokasi perhelatan itu. “Tetap (di Bali), kami belum ada perubahan rencana,” katanya di Jakarta, Rabu, 22 November 2017.

    Saat ini, kondisi Gunung Agung sudah semakin kondusif. Dia menuturkan, kemarin, Gunung Agung meletus karena hujan deras, lalu ada air yang bersentuhan langsung dengan lava sehingga menimbulkan letusan. “Cuma ada asap aja kita pada ribut,” ujarnya.

    Meski sudah kondusif, Luhut mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Agung tetap waspada. Namun dia meminta warga tidak perlu takut. “Karena tidak ada tanda-tanda lain (Gunung Agung akan meletus) selain itu saja,” ucapnya.

    Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan Gunung Agung di Karangasem, Bali, meletus pada Selasa, 21 November 2017, pukul 17.05 Wita. Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan letusan Gunung Agung bertipe freatik atau terjadi karena adanya uap air bertekanan tinggi.

    “Uap air tersebut terbentuk seiring dengan pemanasan air di bawah tanah atau air hujan yang meresap ke tanah di dalam kawah, kemudian kontak langsung dengan magma,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho saat dihubungi di Denpasar.

    Menurut Sutopo, letusan freatik kerap disertai asap, abu, dan material di dalam kawah. Sutopo menuturkan letusan freatik sulit diprediksi karena tidak ada tanda-tanda peningkatan gempa.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.