Kabar Bandara Soeta Dijual Viral, Menteri Budi: Cuma Kerja Sama

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersama Menteri Agama Lukman Saifuddin berada di pesawat Boeing 747-400 yang tak lagi dioperasikan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. di Cengkareng, 9 Oktober 2017. Tempo/Vindry Florentin

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersama Menteri Agama Lukman Saifuddin berada di pesawat Boeing 747-400 yang tak lagi dioperasikan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. di Cengkareng, 9 Oktober 2017. Tempo/Vindry Florentin

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi membantah kabar penjualan Bandara Soekarno-Hatta yang sempat viral di media sosial. Budi mengatakan, pemerintah hanya merencanakan pengembangan bandara tersebut bersama pihak swasta.

    "Jelas kita tidak ada niat menjual Bandara Soetta. Apa yang kita lakukan malah lebih banyak melakukan kerja sama dengan pihak swasta," kata Budi yang menjadi pembicara dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9 di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Jumat, 17 November 2017.

    Baca juga: Bandara Soekarno-Hatta Jenuh pada 2025, Ini Alternatifnya

    Kolaborasi dengan swasta sendiri menjadi salah inovasi pemerintah untuk menutupi kekurangan pembiayaan infrastruktur nasional. Pembiayaan tersebut, saat ini tidak hanya bergantung anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) saja, namun juga lewat penugasan ke badan usaha milik negara, serta kerja sama dengan swasta.

    Budi pun sempat buka-bukaan terkait adanya defisit anggaran dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Dari kebutuhan Rp 1500 triliun untuk belanja infrastruktur, kata dia, hanya tersedia Rp 250-500 triliun di APBN. "Sehingga ada gap (jarak) sekitar Rp 1000 triliun."

    Hal itu mendorong pemerintah untuk menawarkan sejumlah proyek strategis pada swasta. Namun, Budi menegaskan pihaknya hanya menawarkan proyek yang jelas dan menjanjikan untuk dikelola.

    "Kita mengenal tiga klasifikasi, apabila proyek itu tidak visible harus dilakukan kementerian bersangkutan. Kalau visible, diberi ke badan usaha atau swasta," tuturnya.

    Dari hasil pilahan Kemenhub, kata Budi, ada setidaknya 20 proyek pelabuhan dan 10 bandara yang siap ditawarkan. “Jika prospeknya bagus, kita lakukan kerjasama terbatas, bukan tidak terbatas, antara 10-30 tahun."

    Sejumlah proyek bandara yang dimaksud seperti Bandara Labuan Bajo, Raden Inten, Tarakan, Sabang, Tanjung Pandan, Luwuk, Sibolga, hingga Banyuwangi. Beberapa proyek pelabuhan pun akan ditawarkan, seperti Pelabuhan Bima, Waingapu, Kalabahi, Ende, Lembar, Manokwari, Ternate, Kendari, Biak, Fakfak, Sorong, sampai Merauke.

    Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan mengatakan kerja sama dengan swasta sudah lazim dilakukan di negara lain. Terbatasnya anggaran, menurut dia tak menghambat pembangunan infrastruktur.

    "Public Private Partnership seperti itu, memungkinkan untuk menarik swasta bekerja sama,” kata Robert dalam diskusi yang sama. 

    Bandara Soekarno-Hatta merupakan bandara tersibuk di Indonesia dengan jumlah penumpang sampai 60 juta orang per tahun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.