Sabtu, 15 Desember 2018

IMF: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bisa 6,5 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, berbicara dengan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, dan Direktur IMF Christine Lagarde selama Pansus rapat pelno musim semi World Bank/IMF Spring di markas IMF, Washington, 22 April 2017. AP/Jose Luis Magana

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, berbicara dengan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, dan Direktur IMF Christine Lagarde selama Pansus rapat pelno musim semi World Bank/IMF Spring di markas IMF, Washington, 22 April 2017. AP/Jose Luis Magana

    TEMPO.CO, JAKARTA – Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan Indonesia mampu mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi hingga hingga di atas 5 persen. IMF bahkan menyatakan Indonesia mampu mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 6,5 persen dalam beberapa tahun ke depan.

    “Adalah mungkin Indonesia bisa mencapai di atas 5 persen sampai 6,5 persen dalam beberapa tahun,” kata Kepala Divisi IMF Departemen Asia dan Pasifik Luis Enrique Breuer saat bertemu awak media di Jakarta, Selasa, 14 November 2017.

    Simak: IMF Naikkan Proyeksi Pertumbuhan RI

    Luis menuturkan potensi pertumbuhan hingga 6,5 persen ada karena Indonesia memiliki banyak populasi muda. Populasi muda ini, kata Luis, akan memasuki pasar tenaga kerja setiap tahunnya. Hal tersebut, menurut dia, pada akhirnya akan menciptakan potensi pertumbuhan ekonomi. Dan yang perlu dilakukan pemerintah, kata Luis, adalah menciptakan lapangan pekerjaan. “Dengan begitu negara bisa mendapatkan keuntungan dari dividen demografis,” kata dia.

    Selain membuka lapangan kerja yang lebih luas, pemerintah menurut Luis juga perlu melakukan beberapa pekerjaan lainnya. Luis mengatakan pemerintah perlu menjaga disiplin finansial, tingkat inflasi dan stabilitas makro ekonomi.

    Kedua, Luis mengatakan pemerintah juga perlu meningkatkan kemampuan bereaksi terhadap faktor eksternal. Pemerintah, kata dia, harus waspada terhadap beberapa faktor, seperti pertumbuhan ekonomi global, pertumbuhan Cina dan suku bunga Amerika Serikat.

    “Bagi saya, Indonesia punya penyangga untuk merespon sesuatu yang salah terjadi dari luar. Baik bagi Indonesia jika harga minyak naik. Tapi buruk, jika terjadi perlambatan ekonomi Cina atau kenaikan cepat tingkat suku bunga AS,” ujarnya.

    Luis juga meminta pemerintah memodernisasi peraturan di Indonesia. Sebab, menurut Luis penerapan desentralisasi membutuhkan penyelarasan antara aturan pemerintah pusat dan daerah.

    Keempat, Luis mengatakan pemerintah harus meningkatkan pendidikan untuk populasi muda. Dan kelima, Luis menyarankan agar pemerintah dapat membenahi sektor keuangan yang tidak terlalu efisien. “OJK (Otoritas Jasa Keuangan) terlalu banyak peraturan.”

    Luis menuturkan Indonesia juga masih memiliki beberapa kendala untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Kendala tersebut di antaranya, ketergantungan yang berlebihan pada komoditas. “Jika harga komoditas turun, pendapatan negara juga akan turun,” tutur dia.

    Kendala lainnya adalah investasi pemerintah pada proyek infrastruktur yang butuh waktu lama untuk mempengaruhi ekonomi. Menurut dia ada sejumlah resiko fiskal jika proyek tersebut mangkrak. Namun, IMF menganggap proyek infrastruktur juga penting, sebab Indonesia tertinggal jauh dalam hal ini dibanding negara lain. “Dalam jangka pendek, proyek infrastruktur telah berdampak pada ekonomi melalui belanja pemerintah,” kata dia.

    ROSSENO AJI NUGROHO | YANDHRIE ARVIAN


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Penyerangan Polsek Ciracas Diduga Ada Konflik TNI dan Juru Parkir

    Mabes Polri akan mengusut penyerangan Polsek Ciracas yang terjadi pada Rabu, 12 Desember 2018 dini hari. Diduga buntut konflik TNI dengan juru parkir.