Senin, 26 Februari 2018

PT Pos Indonesia (Persero) Merespons Tantangan Ekonomi Digital

Oleh:

Tempo.co

Selasa, 14 November 2017 11:21 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • PT Pos Indonesia (Persero) Merespons Tantangan Ekonomi Digital

    Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero), Gilarsi W. Setijono (dok PT Pos Indonesia)

    INFO BISNIS - Ekonomi digital kini menjelma menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Bagi Indonesia, pertumbuhan ekonomi berbasis digital menjadi peluang sekaligus tantangan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

    Seperti yang kerap diutarakan Presiden Joko Widodo dalam beberapa kesempatan, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi digital dengan potensi pasar yang cukup besar. Dengan jumlah penduduk mencapai 250 juta dan 94,3 juta di antaranya adalah pengguna Internet, Indonesia mampu menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

    Sadar akan pergeseran landscape bisnis yang berubah begitu cepat, PT Pos Indonesia (Persero) tentunya tidak ingin tertinggal ataupun tertidur lebih lama. Perusahaan Pelat Merah ini, merespons positif pergeseran dan persaingan tersebut dengan menciptakan berbagai inovasi strategis, agar mampu menjadi winner pada zona yang memang realistis bagi Pos Indonesia bisa menjadi pemenang.

    Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Gilarsi W. Setijono mengatakan “New hope-nya” Pos Indonesia secara komersial adalah pada ekonomi digital atau e-commerce. Jika berbicara mengenai tiga pilar e-commerce (marketplace online, e-commerce logistic, payment gateway), dua dari ketiga pilar tersebut DNA-nya ada pada Pos Indonesia, yaitu e-commerce logistic dan payment gateway.

    “Tinggal bagaimana perseroan memodernisasikan kedua pilar tersebut sehingga memiliki standarisasi dalam layanan berbasis digital. Kami tengah dalam proses modernisasi infrastruktur tersebut. Perlahan tapi pasti Pos Indonesia ke depan akan menjadi bagian penting ekonomi digital Indonesia,” katanya.

    Saat ini, lanjut Gilarsi, Pos Indonesia tengah melakukan sejumlah pembenahan-pembenahan dalam upaya meningkatkan layanan berbasis digital. Diakui Gilarsi bahwa tidak mudah dalam melakukan perubahan strategis dengan fundamental Pos Indonesia di masa lalu yang sangat jauh berbeda dengan kondisi saat ini. “Artinya, untuk bergerak ke arah tersebut dibutuhkan resources, SDM, dan kompetensi. Pos Indonesia tengah memasuki fase on the track dalam hal tersebut,” ujarnya.

    Lebih lanjut Gilarsi mengungkapkan salah satu faktor dalam ekonomi digital adalah membangun infrastruktur teknologi yang benar-benar memadai dan mampu mendukung semua kegiatan operasional dan bisnis.

    Beberapa waktu lalu Pos Indonesia melakukan kerja sama dengan Telkom dalam membangun jaringan teknologi untuk mendukung kegiatan digitalisasi Pos Indonesia yang lebih baik ke depan. “Ini adalah langkah speed up perseroan dalam rangka mendukung infrastruktur IT Pos Indonesia,” ucapnya.

    Kerja sama dengan Telkom merupakan sinergi untuk membangun infrastruktur backbone logistik dalam era e-commerce. Main idea-nya, kata Gilarsi, yaitu diibaratkan otak bertemu otot, Pos Indonesia dan Telkom dapat menjadikan logistik Indonesia berdaulat bukan saja di perkotaan tetapi sampai ke daerah rural di seluruh Indonesia.

    Sinergi tersebut sekaligus menjadi respons positif atas terbitnya Keputusan Presiden 74 Tahun 2017 yang mencita-citakan agar pelaku industri atau UMKM di semua wilayah rural bisa menikmati layanan e-commerce logistik yang strategis. “Artinya, di mana pun UMKM berada, mereka cukup melakukan produksi kemudian proses logistik dan integrasi secara elektronik baik di Indonesia maupun crossborder dapat ditangani dengan baik oleh Pos Indonesia dan Telkom,” tuturnya.

    Menurut Gilarsi secara bisnis kondisi saat ini bukan hanya menyoal persaingan yang semakin tajam, tapi juga tuntutan masyarakat yang semakin tinggi. Pergeseran perilaku masyarakat menjadi berubah seiring dengan perkembangan teknologi. “Intinya, masyarakat saat ini ingin cepat dan mudah,” ujarnya.

    Untuk menunjukkan eksistensi Pos Indonesia khususnya kepada generasi milenial, Gilarsi menjelaskan, perseroan beberapa waktu lalu melakukan inovasi dengan meluncurkan layanan m-kantorpos dan MailPos. Tidak hanya itu, pada kesempatan yang sama juga dilakukan peluncuran sarana kerja Pak Pos (Mr Postman) yaitu Jaket Pengantar Pos.

    “Saat ini Perusahaan sedang melakukan brand rejuvanetion (re-branding), terutama pada bisnis jasa kurir. Salah satu strategi yang akan ditempuh adalah campaign melalui sarana kerja yang bersifat mobile dan mudah dilihat masyarakat luas, yaitu sarana kerja pengantar pos atau yang lebih dikenal Pak Pos atau secara branding dikenal dengan Mr. Postman.” Ucapnya..

    Ke depan, Pos Indonesia, imbuh Gilarsi senantiasa merelevankan kapasitas dan kompetensi semua kekuatan terhadap apa-apa yang menjadi relevan di depan bagi bisnis perseroan. Perseroan saat ini tengah fokus dan concern terhadap langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan agar bisnis Pos Indonesia bisa bertahan di tengah persaingan yang begitu ketat sehingga mampu bertahan di masa mendatang.

    Untuk itu, pria kelahiran 10 Februari 1962, itu menyebut terdapat tiga langkah sebagai key success agar bisnis Pos Indonesia kompetitif, yaitu agile (lincah), adabtable (mudah beradaptasi), dan speed (kecepatan). “ketiga langkah tersebut yang akan membawa Pos Indonesia jauh lebih kompetitif ke depan sehingga sebagai fungsi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mampu menciptakan kinerja keuangan yang jauh lebih baik,” katanya.


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Billy Graham, Pendeta Penasehat Presiden Amerika Serikat, Wafat

    Billy Graham, pendeta paling berpengaruh dan penasehat sejumlah presiden AS, wafat di rumahnya dalam usia 99 tahun pada 21 Februari 2018.