Minggu, 23 September 2018

Perencana Keuangan Sarankan Koleksi Emas Saat Harga Anjlok

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Batangan emas murni 99,99 persen di pabrik Krastvetmet, di kota Krasnoyarsk Siberia, Rusia, 22 September 2017. Pabrik ini merupakan salah satu produsen terbesar logam mulia terbesar di dunia. REUTERS/Ilya Naymushin

    Batangan emas murni 99,99 persen di pabrik Krastvetmet, di kota Krasnoyarsk Siberia, Rusia, 22 September 2017. Pabrik ini merupakan salah satu produsen terbesar logam mulia terbesar di dunia. REUTERS/Ilya Naymushin

    TEMPO.CO, Jakarta - Perencana keuangan dari Finansia Consulting, Eko Indarto, memperkirakan anjloknya harga emas baru-baru ini tak lantas membuat para investor beralih dari logam mulia tersebut ke produk investasi lainnya. "Ini malah indikasi untuk menambah portofolio di emas," ujar Eko saat dihubungi Tempo, Sabtu malam, 11 November 2017. "Karena penurunan sesaat tidak berpengaruh untuk investasi jangka panjang."

    Pernyataan Eko menanggapi kontrak emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange berakhir jatuh lebih dari satu persen pada Jumat atau Sabtu pagi, 11 November 2017, waktu Indonesia barat. Anjloknya harga emas itu akibat aktivitas penjualan misterius besar-besaran.

    Baca: Harga Emas Dunia Anjlok Dipicu Penjualan Misterius

    Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember, merosot US$ 13,30 atau 1,03 persen, menjadi di US$ 1.274,20 per ons. Ini adalah penurunan satu hari terbesar dalam lebih dari tiga minggu. Penurunan tajam tersebut dipicu oleh serangkaian penjualan besar-besaran yang memindahkan sekitar empat juta ons emas di pasar berjangka menjelang akhir sesi, kata pengamat keuangan. Aksi jual tersebut menyebabkan turunnya harga emas dalam waktu 10-15 menit.

    Di sisi lain, Eko melihat prospek yang bagus dalam investasi emas. Selain karena kuat menghadapi inflasi, emas pun tak sulit dicari di masyarakat. “Indikasinya cukup sederhana, dalam 20 tahun terakhir harga emas hanya turun 2 kali, kalau tak salah pada 1998 dan 2016, jadi untuk (investasi) jangka panjang masih cocok,” ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Richard Muljadi Ditangkap Ketika Menghirup Kokain, Ini Bahayanya

    Richard Muljadi ditangkap polisi ketika menghirup kokain, narkotika asal Kolombia yang digemari pemakainya karena menyebabkan rasa gembira.