Minggu, 23 September 2018

Pelaku Startup Minta Penerbitan Hak Paten Produknya Dipercepat

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gibran Chuzaefah Amsi El Farizy, pencipta eFishery

    Gibran Chuzaefah Amsi El Farizy, pencipta eFishery

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan rintisan atau startup yang melakukan inovasi teknologi meminta regulator untuk mempercepat terbitnya hak paten atas produk mereka.

    Permintaan tersebut dipicu oleh lambatnya penerbitan hak paten yang mencapai waktu 3-5 tahun serta biaya pembuatan sertifikat yang relatif tinggi, yaitu lebih dari Rp 30 juta.

    "Waktunya lama dan itupun belum tentu lolos. Apalagi dana sebesar itu, bisa kami gunakan untuk merekrut sales dan menjual produk kami," kata CEO eFishery, Gibran Huzaifah, Kamis, 9 November 2017.

    Gibran mengatakan proposal hak patennya sempat tidak jelas statusnya selama 36 bulan. Hal tersebut juga berdampak pada lambatnya investasi yang akan masuk ke perusahaan rintisannya.

    Baca: Begini Rahasia Sukses Generasi Zaman Now Berbisnis Start Up

    Senada dengan Gibran, VP of Growth Amartha, Fadilla Tourizqua pun merasakan hal yang sama. Hak paten atas usaha yang Amartha lakukan belum keluar setelah proposalnya masuk 24 bulan lalu.

    Hak paten, jelasnya, berguna sebagai bukti validasi kepada calon investor dan OJK agar mereka percaya pada usaha yang Amartha lakukan.

    Kasubdit Sertifikasi Pemeliharaan Mutasi dan Lisensi Kementerian Hukum dan HAM, Erbita Dumada, mengatakan penerbitan hak paten memakan waktu karena Kemenkumham harus memastikan tidak ada pemberian sertifikat ganda ke organisasi paten di luar negeri.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Richard Muljadi Ditangkap Ketika Menghirup Kokain, Ini Bahayanya

    Richard Muljadi ditangkap polisi ketika menghirup kokain, narkotika asal Kolombia yang digemari pemakainya karena menyebabkan rasa gembira.