Selasa, 26 Juni 2018

Sampah, Masalah Utama Sektor Pariwisata

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi sungai Dermaga Pantai Marina, Ancol, Jakarta Utara. Sampah-sampah plastik terlihat mengambang di sepanjang sisi timur sungai dari dermaga 1 sampai 22. TEMPO/NAFI

    Kondisi sungai Dermaga Pantai Marina, Ancol, Jakarta Utara. Sampah-sampah plastik terlihat mengambang di sepanjang sisi timur sungai dari dermaga 1 sampai 22. TEMPO/NAFI

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Mantan Menteri Perdagangan dan Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif Mari Elka Pangestu menyebut sampah merupakan kendala dalam pengembangan pariwisata di Indonesia. Bahkan ia menyebut sampah menjadi top issue dalam industri pariwisata. "Sampah menjadi top issue, seperti di Bali ada yang yang sedang surfing tapi di sekitarnya banyak sampah," kata dia, usai International Conference on Sustainable Tourism (ICST) yang digelar di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Rabu, 1 November 2017 malam.

    Bicara soal wisata, kata dia, unsurnya adalah sosial, ekonomi, lingkungan hidup dan budaya. Tujuan berwisata yang ingin dicapai adalah kebahagiaan. Adanya pariwisata yang berkelanjutan menimbulkan ekonomi yang meningkat, kehidupan yang layak lalu ada harmoni antara manusia dengan lingkungan dan spiritual.

    "Kalau semua tercapai, karena lebih sejahtera dalam penembangan pariwisata dan harmoni dengan lingkungan dan spiritual, maka sustainable tourism adalah kebahagiaan," kata dia. Mari menyatakan para pelaku pariwisata kini telah membicarakan aksi dari standar-standar yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan.

    Hingga saat ini ada 37 daerah berkomitmen untuk mengimplementasikan peningkatan pariwisata yang berkelanjutan. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kementerian Pariwisata Dadang Rizki Ratman menyatakan health and hygiene, soal kesehatan dan kebersihan menjadi perhatian.

    Pihaknya juga telah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan untuk masalah ini. "Pelaku wisata sudah berlaku bersih tetapi di tempat publik masih kurang," kata dia. Untuk mewujudkan kebersihan toilet, contohnya, bahkan sudah ada Asosiasi Toilet Indonesia.

    Program toilet bersih yang digagas oleh Mari Pangestu saat jadi menteri diteruskan dengan standar Asean. Bahkan ada lomba toilet bersih. "Kalau tempat kotor ter-capture dan masuk media, bayangan turis tempat wisata itu tidak layak dikunjungi," kata dia.

    Kementerian Pariwisata terus menggagas pariwisata berkelanjutan agar dapat meningkatkan daya saing tingkat global. Salah satunya melalui pelaksanaan International Conference on Sustainable Tourism (ICST).

    ICST 2017 ini diikuti oleh 300 peserta dan menghadirkan pembicara kelas internasional, seperti Director for Sustainable Development of Tourism United Nations World Tourism Organization (UNWTO) Dirk Glaesser,  Department of Business and Management Oxford Brookes University Prof Chris Cooper, GSTC Chief Executive Officer Randy Durband, President of United in Diversity Mari Elka Pangestu dan Founder and Chairman of Mark Plus Inc Hermawan Kertajaya.  

    Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebut sebagai salah satu negara dengan alam dan budaya terbaik di dunia, Indonesia terganjal oleh satu hal untuk menaikkan peringkat di tingkat global oleh satu hal. Yaitu health and hygiene (kesehatan dan kebersihan). "Dua hal itu sangat tergantung pada penerapan konsep pariwisata berkelanjutan," kata dia.

    MUH SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Masa Berlaku Uang Lama Emisi 1999 dan 1999 Segera Dicabut

    Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk segera melakukan penukaran empat uang lama Rupiah kertas tahun emisi 1998-1999 sebelum 31 Desember 2018.