Konsumsi Nasi Tinggi, Anggota DPR Ini Usulkan Sarapan tanpa Nasi

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aneka potongan buah, sereal dan kacang tersaji dalam semangkuk smoothie spinach yang kaya kalori dan gizi. Smoothie yang biasa hanya dijadikan minuman pelengkap, kini dapt dijadikan menu sarapan sehat untuk keluarga. TEMPO/Dwi Renjani

    Aneka potongan buah, sereal dan kacang tersaji dalam semangkuk smoothie spinach yang kaya kalori dan gizi. Smoothie yang biasa hanya dijadikan minuman pelengkap, kini dapt dijadikan menu sarapan sehat untuk keluarga. TEMPO/Dwi Renjani

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Komisi Vll bidang Pangan DPR RI Herman Khaeron mengusulkan pemerintah membuat program . Menurutnya, jika program itu berjalan pemerintah akan menghemat pasokan beras sebanyak 10 juta ton, dengan asumsi makan sehari tiga kali.

    "Sudah saatnya mulai fokus diversifikasi pangan pengganti beras," kata Herman dalam diskusi diversifikasi pangan di Jakarta, Selasa, 24 Oktober 2017.

    Baca juga: Omelet Sayur, Resep Sehat untuk Menunjang Aktivitas Pagi 

    Ia menuturkan kebutuhan beras Indonesia per tahusarapan tanpa nasin mencapai 35 juta ton. Sedangkan, cadangan beras nasional mencapai 10 juta ton. "Jika program ini dijalankan Indonesia bisa mempunyai cadangan beras 20 juta ton," ujarnya.

    Selain itu, kata dia, seluruh wilayah Indonesia juga bukan penghasil padi. Karena negara kepulauan, pangan Indonesia membutuhkan rantai distribusi yang memakan biaya.

    Menurutnya, dengan program diversifikasi pangan, setiap wilayah di Indonesia bisa mengembangkan potensi pangan lokal yang sesuai dengan kekhasan wilayah masing-masing.

    "Bahkan pengembangan makanan lokal akan menggerakkan ekonomi baru," ujarnya.

    Sejauh ini pemerintah terlihat memaksakan lahan untuk dieksploitasi demi meningkatkan produksi beras. Padahal, banyak pangan lokal seperti jagung, singkong, dan lainnya tidak memerlukan lahan khusus untuk menanamnya. "Bisa memanfaatkan pekarangan untuk menanam singkong, ubi dan jagung."

    Deputi Kepala BPPT Bidang Agroindustri dan Bioteknologi Eniya Listiani Dewi mengatakan ketergantungan masyarakat pada konsumsi nasi membuat banyak penyakit seperti diabetes, jantung dan obesitas. "Ketiga penyakit itu yang paling tinggi di Indonesia," ucapnya.

    Bahkan, konsumsi beras Indonesia sudah cukup tinggi, yakni dua kali lipat dari Jepang yang juga biasa mengkonsumsi nasi. Konsumsi beras Jepang 50 kg per tahun, sedangkan Indonesia mencapai 114 kg per tahun. "Di Indonesia aneh. Ada orang sakit diabetes dirawat di rumah sakit, diberi makan nasi. Ini sudah salah kaprah." Pengurangan karbohidrat bisa dimulai dengan sarapan tanpa nasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.