50 Persen Angkot Bandung Dikandangkan, karena Angkutan Online?

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pengemudi gojek mengantar penumpangnya di kawasan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 16 November 2015. TEMPO/Pius Erlangga

    Seorang pengemudi gojek mengantar penumpangnya di kawasan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 16 November 2015. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua harian Wadah Aliansi Aspirasi Transportasi (WAAT) Jawa Barat, Anton Ahmad Fauzi, mengatakan kehadiran angkutan online membuat hampir separuh angkutan kota di Bandung raya dikandangkan.

    "Jumlah angkot yang ada di Bandung raya 15 ribu, hampir 50 persen tidak operasional karena sudah tidak masuk ke hitungan usahanya," kata Anton saat dihubungi melalui telepon seluler, Kamis, 12 Oktober 2017.

    Anton mengatakan penurunan operasi angkot terjadi dalam setahun terakhir, seiring dengan makin banyaknya transportasi online, yang umumnya bertarif lebih rendah ketimbang angkutan umum konvensional.

    Baca: Angkutan Online Dilarang di Bandung, Warganet Bikin Petisi

    Penurunan pendapatan angkot, menurut dia, membuat para sopir tidak bisa menutup biaya setoran ke pengusaha angkot, sehingga mobil-mobil angkutan terpaksa dikandangkan. "Boro-boro untuk setor, untuk dibawa pulang ke rumah juga mereka ketar-ketir," kata dia.

    Ia mengatakan, kehadiran layanan transportasi berbasis aplikasi tidak hanya mengancam angkot saja, namun juga moda transportasi lain, seperti ojek konvensional dan becak. "Efeknya ke transportasi yang sudah eksis duluan, bukan hanya angkot saja," kata dia.

    Dia berharap pemerintah pusat segera mengeluarkan kebijakan mengenai layanan transportasi berbasis aplikasi. "Kita tidak anti terhadap online, tapi yang harus ditekankan adalah regulasinya harus jelas," kata dia.

    Baca: Pemerintah Jabar Sepakat Larang Angkutan Online Beroperasi

    Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai kehadiran transportasi online tidak berbanding lurus dengan pembukaan lapangan kerja baru, namun justru mematikan usaha yang sudah berlangsung.

    Ia mengatakan warga memilih transportasi online itu karena menawarkan tarif lebih rendah dan kenyamanan.

    "Perlu ada perhitungan sebetulnya biaya atau cost yang wajar jika angkutan online dijalankan. Tanpa subsidi dan gimmick marketing tak mungkin harganya bisa menjadi sangat murah," kata dia.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut Gojek.