Senin, 25 Juni 2018

Saham Anak Usaha Garuda Indonesia Naik Turun, Dirut: Itu Biasa

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat terbang komersil Airbus A330-300 di hanggar Garuda Maintenance Facility, Cengkareng, Tangerang, 1 Februari 2016. PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mendatangkan dua armada baru tersebut guna memperluas dan meningkatkan jaringan penerbangan Garuda Indo

    Pesawat terbang komersil Airbus A330-300 di hanggar Garuda Maintenance Facility, Cengkareng, Tangerang, 1 Februari 2016. PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mendatangkan dua armada baru tersebut guna memperluas dan meningkatkan jaringan penerbangan Garuda Indo

    TEMPO.CO, Jakarta -PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk menjadi perusahaan ke-25 di 2017 yang melantai di Bursa Efek Indonesia. Anak perusahaan PT Garuda Indonesia (persero) Tbk itu melepas 10 persen sahamnya ke publik atau 2.823.351.100 saham baru. Pada penawaran saham perdana (initial public offering) harga sahamnya berada di posisi Rp 400.

    Di awal pencatatan perdana, perusahaan dengan kode saham GMFI sempat naik ke posisi Rp 408 per saham. Namun hal itu tak berlangsung lama. Saham GMFI terkoreksi 20 poin dan stabil di posisi Rp 380 per saham. Di akhir perdagangan hari ini saham GMFI ada di angka Rp 364.

    Direktur Utama GMFI Iwan Joeniarto mengatakan naik-turunnya harga saham merupakan hal lumrah. Apalagi GMFI merupakan emiten dari sektor perawatan dan perbaikan pesawat pertama yang menjadi perusahaan terbuka di Indonesia. "Biar investor belajar dulu. Kami mau tahu publik menyerap berapa," kata Iwan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa, 10 Oktober 2017.

    Iwan menyatakan perseroan tidak sekedar melihat harga saham di pasar, tetapi juga ingin mengetahui harga yang menjadi patokan di pasar modal. "Harga yang naik akan jadi benchmark untuk dibeli investor," ucapnya.

    Selain melepas 10 persen sahamnya, GMFI juga menawarkan 20 persen sahamnya ke investor strategis. Direktur Utama PT Garuda Indonesia (persero) Tbk Pahala Mansury mengatakan nilai dari 20 persen yang ditawarkan mencapai US$ 200 juta atau Rp 2,7 triliun. Namun ia enggan menyebutkan investor mana saja yang menaruh berminat. "Ada empat sampai lima mitra strategis," ucapnya.

    Pahala menuturkan perusahaan memutuskan menawarkan 20 persen saham ke investor strategis karena cara itu dianggap bisa lebih optimal menyerap saham. Dengan kombinasi itu, perusahaan berharap GMFI bisa terus tumbuh mencari pasar baru. "Mudah-mudahan kedua hal ini bisa memberikan peningkatan valuasi GMFI," kata dia.

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Pelatih Paling Mahal di Piala Dunia 2018

    Ini perkiraan jumlah gaji tahunan para pelatih tim yang lolos Piala Dunia 2018.