MTI Jelaskan Penyebab Laba Industri Taksi Semakin Kecil

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi taksi Exspress. TEMPO/M. Iqbal Ichsan

    Ilustrasi taksi Exspress. TEMPO/M. Iqbal Ichsan

    TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Dewan Pakar Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit mengatakan margin atau laba industi taksi semakin lama semakin kecil. Ia menduga pendapatan industri taksi seperti Express dan Bluebird turun antara 20 hingga 30 persen.

    “Apalagi dengan kondisi peningkatan penggunaan transportasi online daring, itu saya kira cukup punya dampak menggerus pangsa-pangsa taksi tersebut,” kata Danang Parikesit saat dihubungi, Jumat, 6 Oktober 2017.

    Simak: Taksi Express Jual Aset dan Kendaraan karena Terlilit Utang 

    Danang mengkhawatirkan layanan transportasi online beririsan dengan layanan angkutan taksi. Aliansi strategis atau kerjasama yang dibangun antara taksi reguler seperti Express dengan Grab dan Bluebird dengan Gojek merupakan sebuah langkah yang menurut Danang perlu diperhatikan untuk memperbaiki industri taksi.

    “Konvergensi antara taksi yang konvensional dengan transportasi layanan online ini kan semakin lama semakin menguat Kalau kita lihat dari sisi saham di market kan cukup volatil, cukup rentan dengan berbagai kebijakan,” kata Danang Parikesit. "Nah ini saya kira titik baliknya akan bergantung pada peraturan Menteri yang baru yang mengganti peraturan Menteri yang dibatalkan oleh Mahkamah Agung."

    Danang melihat Kementerian Perhubungan mempunyai waktu tiga bulan lagi untuk membuat peraturan yang baru, yakni bulan November tahun ini diharapkan semua beleid rampung. “Sehingga dalam waktu satu bulan ini kita dapat melihat market seperti apa,” kata Danang Parikesit.

    Sebelumnya dalam keterbukaan informasi yang dikutip dari laman Bursa Efek Indonesia, PT Express Transindo Utama Tbk, yang menaungi taksi Express, menyatakan akan menjual aset-asetnya seperti tanah dan ruko. Manajemen taksi Express juga telah memecat ratusan pegawainya. "Tak menutup kemungkinan adanya pemutusan hubungan kerja," demikian pernyataan tertulis TAXI, Rabu, 4 Oktober 2017.

    Pemangkasan karyawan dilakukan untuk meningkatkan efektivitas kinerja dan efisiensi biaya. Selain melepas tanah dan ruko, perusahaan berencana menjual 136 unit armada taksi dan satu unit bus. Dari penjualan aset-aset tersebut, dana yang ditargetkan mencapai Rp 2,5 miliar pada periode ini. Pada periode berikutnya, dananya ditargetkan naik menjadi Rp 3,5 miliar.

    Dana dari hasil penjualan aset taksi Express akan digunakan untuk membayar utang dan menunjang kegiatan operasional perusahaan. Hal itu dilakukan akibat anjloknya pendapatan perusahaan. Sepanjang Juni 2017, perusahaan hanya membukukan pendapatan Rp 158,73 miliar. Angka ini jauh lebih kecil dibanding pendapatan pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 374,06 miliar.

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.