Genjot Pariwisata, Jokowi: Pelabuhan Internasional Mendesak

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi saat memberikan keterangan pers terkait perkembangan situasi di Rakhine State, Myanmar, 3 September 2017. Presiden mengecam segala bentuk kekerasan etnis di Myanmar. TEMPO/Subekti.

    Presiden Jokowi saat memberikan keterangan pers terkait perkembangan situasi di Rakhine State, Myanmar, 3 September 2017. Presiden mengecam segala bentuk kekerasan etnis di Myanmar. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Tak adanya pelabuhan internasional di Indonesia menjadi salah satu perhatian Presiden Joko Widodo. Sebab, hal tersebut ikut mempengaruhi jumlah wisatawan mancanegara yang dibidik pemerintah sebagai alternatif penyumbang utama devisa negara. 

    Menyikapi tak adanya pelabuhan internasional di negara kepulauan ini, Jokowi menyatakan telah menyiapkan sejumlah langkah. Salah satunya meninjau pelabuhan kapal pesiar di Singapura. "Saya lihat, kayak begitu satu tahun buat 10 terminal juga bisa," ujarnya dalam acara penutupan rapat koordinasi nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) di The Ritz-Carlton, Kuningan, Jakarta, Selasa malam, 3 Oktober 2017. Ia juga sudah memerintahkan jajarannya membangun 10 pelabuhan semacam di Singapura dalam waktu dua tahun.

    Baca: Muara Angke Diprioritaskan Jadi Daerah Wisata Pelabuhan

    Pemerintah menargetkan ada 20 juta wisatawan mancanegara berkunjung ke Indonesia hingga 2019. "Saya bilang ke Menteri Pariwisata, target 2019 itu 20 juta wisatawan mancanegara harus ketemu. Taruhannya jabatan," katanya.

    Jokowi mengatakan jumlah wisatawan mancanegara selama ini tercatat tak pernah melebihi angka 10 juta orang. Padahal negara tetangga seperti Thailand mendapat 30 juta wisatawan mancanegara dan Malaysia 24 juta. "Padahal produk Indonesia 10 kali melebihi yang mereka punya," kata Jokowi. Dia menyebutkan Candi Borobudur, Labuan Bajo, dan Wakatobi sebagai lokasi wisata yang seharusnya menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara.

    Sebelumnya, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani mengatakan sektor pariwisata berpotensi menjadi penyumbang utama devisa negara. Namun ada satu hal penting yang belum dimiliki Indonesia, yakni pelabuhan bertahap internasional.

    Padahal, menurut Rosan, pelabuhan bertaraf internasional penting untuk menggaet wisatawan mancanegara. Rosan mengatakan sektor pariwisata akan berkembang pesat dan menciptakan lapangan kerja.

    Selain itu, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar. Rosan mencontohkan Singapura, negara kecil yang memiliki tiga pelabuhan internasional. Belum lagi Phuket, Thailand, dengan empat pelabuhan. 

    Rosan mengapresiasi upaya pemerintah membangun pelabuhan internasional di Banyuwangi, tapi menurut dia itu masih kurang. "Gregetan saja sih, Pak, kok punya 17 ribu pulau tapi pelabuhan internasional tidak punya," ujarnya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.