Perundingan Indonesia-Australia CEPA Masuki Putaran ke-9

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memberikan sambutan dalam Jakarta Fair Kemayoran 2017 di JIExpo Kemayoran, Pademangan, Jakarta Pusat, 14 Juni 2017. TEMPO/Aghniadi

    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memberikan sambutan dalam Jakarta Fair Kemayoran 2017 di JIExpo Kemayoran, Pademangan, Jakarta Pusat, 14 Juni 2017. TEMPO/Aghniadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Perundingan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement atau Indonesia-Australia CEPA memasuki putaran ke-9.

    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan IA-CEPA berbeda dengan perjanjian perdagangan bilateral Indonesia lainnya, karena bentuk kerja sama yang dilakukan oleh kedua negara lebih bersifat komprehensif.

    "Kita tidak mungkin menutup diri dari perdagangan antarnegara di dunia," ujarnya seusai membuka perundingan di Hotel JW Marriot, Jakarta, Senin, 2 Oktober 2017.

    Enggartiasto menjelaskan panjangnya proses perundingan disebabkan masing-masing negara punya kepentingan. Oleh karena itu, diperlukan kesepakatan untuk menjembatani itu. "Jadi diperlukan kesepakatan yang bersifat win-win," ucapnya.

    Baca: Indonesia-Australia CEPA Ditargetkan Rampung Akhir Tahun Ini

    Australia merupakan salah satu mitra dagang strategis Indonesia. Kementerian Perdagangan mencatat total perdagangan Indonesia dengan Australia pada 2016 senilai USD 8,45 miliar.

    Ekspor Indonesia tercatat senilai USD 3,19 miliar dan nilai impor tercatat USD 5,26 miliar. Komoditas nonmigas masih menjadi andalan kedua negara dengan total perdagangan senilai USD 7,18 miliar sepanjang tahun lalu, sedangkan migas hanya USD 1,27 miliar.

    Peluncuran perundingan Indonesia-Australia CEPA dilakukan pada 2 November 2010. Proses sempat terhenti pada 2011-2015 sehingga dilakukan reaktivasi pada Maret 2016.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.