Di Awal Kemerdekaan, Tokoh Islam Jaga Agar Indonesia Tak Pecah

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hidayat Nur Wahid sosialisasikan Empat Pilar MPR, Jakarta 30 September 2017. (Dok. MPR)

    Hidayat Nur Wahid sosialisasikan Empat Pilar MPR, Jakarta 30 September 2017. (Dok. MPR)

    INFO NASIONAL - Saat melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR  kepada ratusan warga Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat di  Aula Mitra Nusantara, Pasar Minggu, Jakarta, 30 September 2017, Wakil Ketua  MPR Hidayat Nur Wahid mengatakan bukan perkara mudah mengurus negara yang baru merdeka.

    Ia mencontohkan negara Palestina dan Kosovo, meski sudah menyatakan kemerdekaannya namun masih ada negara yang tidak mengakuinya. Untuk kasus Indonesia di awal masa kemerdekaan, para tokoh-tokoh Islam rela menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta. "Para tokoh Islam memahami betul sehingga Proklamasi 17 Agustus 1945 perlu dijaga," ujarnya. "Tokoh Islam menerima penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta agar Indonesia tetap bersatu," ujar Hidayat, menambahkan.

    Belajar dari sejarah tersebut, Hidayat Nur Wahid menegaskan bila bangsa ini membaca sejarah maka tak akan menjadikan umat Islam sebagai pelengkap penderita. "Tanpa peran umat Islam tak akan ada Pancasila dan NKRI," paparnya.

    Sebagai mayoritas penduduk Indonesia, menurut Hidayat Nur Wahid, Soekarno paham betul kondisi ini sehingga dalam pidato pada 1 Juni 1945, Soekarno mengatakan di dadanya ada Islam. Tak heran bila Soekarno tak mempermasalahkan Piagam Jakarta namun karena ada lobby Mohammad Hatta kepada tokoh-tokoh Islam maka tujuh kata tersebut dihapus.

    Peran tokoh Islam dalam kebangsaan tak hanya itu. Ketika bangsa ini berbentuk Republik Indonesia Serikat, bentuk yang tak sesuai dengan cita-cita proklamasi itu ditolak oleh tokoh dari partai Islam Masyumi, Mohammad Natsir. "Dengan mosi integral Mohammad Natsir, Indonesia berbentuk kembali menjadi NKRI," paparnya.

    Hidayat Nur Wahid dalam kesempatan itu mengajak ummat Islam untuk tak terombang ambing sehingga tak produktif. Diharapkan ummat Islam jangan sedikit-dikit membi'dah dan mengkufurkan pihak lain. "Kalau ummat Islam hanya membicarakan soal bid'ah, lalu siapa yang akan mengurus Indonesia?" ujarnya.

    Kalau umat Islam antipati kepada negara Indonesia karena dianggap bid'ah, hal demikian akan membuat umat Islam menjadi tak bersemangat dalam mengisi Indonesia. "Kalau umat Islam tak mengisi Indonesia maka peran itu akan diambil oleh pihak lain," ungkapnya.

    Diharapkan ummat Islam menatap ke depan dan mengisi pembangunan. "Negeri ini warisan para ulama," ungkapnya. Disebutkan, Pancasila mengandung prinsip yang bisa memberi rasa nyaman kepada ummat Islam. "Sila pertama, membuat kita bebas melaksanakan ibadah agama," ujarnya. "Dengan sila pertama, kita juga bisa mengkoreksi paham yang tak sesuai di Indonesia, seperti paham komunis," kata Hidayat.(*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.