Ini yang Harus Dilakukan Pengelola Mal agar Tak Sepi Pengunjung

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana Jakarta Great Sale 2017 di Mall Senayan City, Jakarta, 8 Juni 2017. Festival Jakarta Great Sale (FJGS) 2017 ditargetkan mampu meraup transaksi Rp 16,54 triliun selama penyelenggaraannya pada 2 Juni-12 Juli 2017. Tempo/Tony Hartawan

    Suasana Jakarta Great Sale 2017 di Mall Senayan City, Jakarta, 8 Juni 2017. Festival Jakarta Great Sale (FJGS) 2017 ditargetkan mampu meraup transaksi Rp 16,54 triliun selama penyelenggaraannya pada 2 Juni-12 Juli 2017. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kelesuan yang melanda sektor ritel Indonesia membuat pengelola mal dan peritel bekerja keras mengatur berbagai strategi untuk menarik pengunjung. Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Stefanus Ridwan, menuturkan strategi utama bagi pengelola mal dan peritel adalah dengan melakukan perubahan atau penyegaran konsep agar lebih menarik bagi konsumen.

    "Yang tidak berubah, tidak beriklan, produknya itu-itu saja, makin lama akan makin kalah saing," ujarnya pada Jumat, 22 September 2017.

    Baca: Sejumlah Mal di Jakarta Sepi Pengunjung, Apa Sebabnya?

    Hal ini tidak hanya berlaku bagi tenant yang menjual produk fesyen dan sebagainya, tetapi juga restoran. Rasa makanan yang enak tidak lagi cukup untuk mendatangkan konsumen. "Harus ada experience yang dirasakan pengunjung dan ada sesuatu yang bisa mereka ceritakan ke orang lain termasuk lewat penggunaan media sosial," ungkap Stefanus.

    Proses adaptasi makin cepat dilakukan seiring dengan makin cepatnya perkembangan pasar. Jika sebelumnya tenant mal baru mengganti desain atau konsep gerai tiap 5 tahun, maka sekarang perubahan desain setidaknya dilakukan tiap 2 tahun atau malah lebih cepat lagi. Namun, perubahan konsep harus dilakukan sesuai dengan target pasar yang dituju oleh pusat perbelanjaan tersebut.

    Baca: Alasan AEON Tertarik Buka Pusat Perbelanjaan di Indonesia

    Penerapan sistem omni-channel, di mana tenant dan pengelola mal mengawinkan konsep offline dan online, juga dinilai penting karena lebih interaktif bagi konsumen. Penyelenggaraan program promo pun bisa membuat pengunjung tetap datang. Selain diskon, bentuknya bisa berupa undian berhadiah. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama yang erat dengan para tenant untuk menggelar kegiatan yang menarik dan interaktif.

    Jika ada tenant yang terus merugi tapi tidak mau beradaptasi, Stefanus menyatakan pengelola mal pun tidak bisa membantu dan bisa saja kontraknya diputuskan berakhir.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.