Ribuan Petani Dikabarkan Datangi Istana Tuntut Reforma Agraria

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak petani berorasi saat aksi memperingati Hari Tani Nasional di halaman Gubernur Jawa Tengah, 27 September 2016. Para Petani menyuarakan kedaulatan pangan dengan menghentikan impor pangan serta beri petani tanah garapan dengan reformasi agraria.

    Seorang anak petani berorasi saat aksi memperingati Hari Tani Nasional di halaman Gubernur Jawa Tengah, 27 September 2016. Para Petani menyuarakan kedaulatan pangan dengan menghentikan impor pangan serta beri petani tanah garapan dengan reformasi agraria.

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak 7000 petani dari berbagai daerah bersama seluruh jaringan Komite Nasional Pembaruan Agraria (KNPA) disebutkan akan mendatangi Istana Merdeka pada Rabu, 27 September 2017. Kedatangan mereka tersebut dalam rangka peringatan Hari Tani Nasional 2017 yang bertemakan “Indonesia Darurat Agraria : Luruskan Reforma Agraria dan Selesaikan Konflik-konflik Agraria”.

    “Kita akan melakukan aksi massa pada tanggal 27 September 2017, dengan titik kumpul di Masjid Istiqlal dan target aksi massa adalah depan Istana Negara. Akan ada sekitar 7000 massa petani yang akan masuk ke Jakarta,” ujar Koordinator Umum Hari Tani Nasional 2017, Dewi Kartika, di Pancoran, Jakarta Selatan, Ahad 24 September 2017.

    Dewi mengatakan, tema “Indonesia Darurat Agraria” diusung karena pemerintah Jokowi-JK dianggap masih belum sepenuhnya melaksanakan reforma agraria. Menurutnya, Memasuki tahun ketiga dari pemerintah jokowi-jk, agenda reforma agraria melalui target redistribusi 9 juta hektar tanah berjalan sangat lambat bahkan mandek. Padahal harapannya, para petani gurem atau yang tidak memiliki tanah akan terbantu dengan adanya redistribusi tanah tersebut.

    "Regulasi atau terobosan hukum dan politiknya tidak ada. Hanya janji RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) lewat target 9 juta hektar," kata Dewi.

    Tidak hanya menuntut pelaksanaan reforma agraria, KNPA bersama para petani  meminta pemerintah menyelesaikan konflik agraria yang masih marak terjadi. Menurut catatan KNPA, di tahun 2015 hingga 2016 terjadi 702 konflik agraria di atas lahan seluas 1.665.457 hektar. Di sisi lain ada 229 petani yang dianiaya, 445 petani dikriminalisasi dan 18 orang tewas karena konflik.

    Sebelum bertandang ke rumah dinas RI 1, dua hari sebelumnya yakni Senin 25 September 2017, KNPA akan mendatangi gedung MPR RI. Hal ini dalam rangka menuntut pelaksanaan TAP MPR No. IX/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam serta UUPA No.5/1960 tentang Undang-undang Pokok Agraria.

    Keesokan harinya yakni Selasa 26 September 2017 KNPA juga akan mendatangi gedung Mahkamah Konstitusi atau MK untuk menuntut penertiban UU yang dinilai bertentangan dengan hak konstitusiaonal khususnya para petani.

    Di hari yang sama, KNPA juga akan mendatangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK untuk menuntut penindakan kasus korupsi di sektor agraria, seperti penyalahgunaan wewenang, gratifikasi, hingga pemberian izin di luar prosedur yang dilakukan pemerintah dan perusahaan.

    Tidak hanya petani, para nelayan, perempuan masyarakat adat, buruh dan mahasiswa juga disebutkan akan hadir dalam rangkaian kegiatan memperingati Hari Tani Nasional 2017 tersebut. Hari Tani Nasional disebutkan tidak hanya diperingati di ibu kota saja, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia seperti, Karawang, Solo, Sragen, Solo, Jambi, Makassar, Palu, Sragen dan Lampung. Sebagian besar peringatandilakukan melalui aksi massa ke berbagai kantor pemerintahan daerah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.