Pabrik Tenun Tertua Tasikmalaya Kini Megap-megap  

Reporter

Selasa, 18 Oktober 2016 11:13 WIB

Pekerja menggulung benang untuk mesin tenun di pabrik sarung Bagja, Kampung Balekambang, Desa Sukamaju, Bandung, Jawa Barat, 19 Juni 2015. Berkurangnya order sarung 26 pabrik tutup dan sekitar 6.000 pekerja dirumahkan. TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Tasikmalaya - Deru mesin terdengar nyaring di halaman sebuah pabrik tenun tua di Jalan Muhammad Hatta, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa pagi, 18 Oktober 2016. Ketika masuk ke dalam pabrik, deretan mesin tenun kuno berjajar di salah satu ruangan. Mesin buatan 1950 itu masih beroperasi dengan baik.

"Pabrik berdiri tahun 1952," kata Kepala Pabrik Tenun Pusat Koperasi Kota/Kabupaten Tasikmalaya Syahidan mengawali perbincangan.

Dia menuturkan, dulu ada lima pabrik tenun di Tasikmalaya. Pabrik tenun milik Pusat Koperasi Kota/Kabupaten Tasikmalaya (PKKT) itu merupakan yang pertama berdiri dan terbesar. Kini, hanya tinggal pabrik tenun yang dipimpin Syahidan yang masih ada. "Semuanya sudah tidak ada. Sekarang hanya tinggal ini (pabrik milik koperasi)," ucap Syahidan mengenang masa itu.

Kini, pabrik tenun PKKT juga sudah terengah-engah dalam menjalankan roda bisnisnya. Alat produksi di pabrik ini sudah jauh tertinggal dengan mesin modern yang lebih canggih.

Baca juga:
Google Flight Akan Beri Notifikasi jika Tiket Murah Tersedia
Artis-artis di Belakang Calon Gubernur DKI Jakarta

Syahidan berujar, mesin tenun “buhun” di pabriknya hanya menghasilkan 60 meter kain tenun dalam satu minggu. Sedangkan alat modern, cukup satu jam menghasilkan kain 60 meter. Karena tingkat produksi yang kecil, pesanan pun berkurang. "(Kondisi pabrik) justru megap-megap. Mesin di sini buatan 1950. Seharusnya tiap 5 tahun mesin diganti," katanya.

Kondisi tersebut diperparah dengan serbuan kain tenun dari Negara Cina. Kain dari negara tersebut harganya jauh lebih murah. "Dulu kami ada pesanan kain sorban dan sarung. Kini tak ada lagi. Kami tidak bisa bersaing," tutur Syahidan.

Dia melanjutkan, saat ini pabriknya hanya memproduksi polosan atau kain putih polos. Kain tersebut nantinya akan diolah lagi oleh si pembeli. "Kayaknya bukan untuk dibuat sarung, mungkin untuk kerajinan," katanya.

Pada masa kejayaan, ada 48 mesin tenun yang beroperasi. Sekarang tinggal 46 mesin yang jalan, dua mesin sudah rusak. "Belum pernah diremajakan. Semuanya manual," kata Syahidan.

Ihwal gaji karyawan pun, dia mengaku kesulitan membayarnya sesuai dengan undang-undang atau UMR. Dalam sebulan, pendapatan pabrik tidak sampai Rp 40 juta. Sementara pengeluarannya Rp 30 juta. "Di sini ada 45 karyawan," ucapnya.

Baca juga:
Tagih Pajak Google, Rudiantara: Enggak Ada Istilah Nyerah
Wow, Joey Alexander Masuk The Next Generation Leaders Time


Para karyawan mayoritas warga sekitar. Usianya pun sesuai dengan mesin-mesin tenun alias sudah tua. "Mau pindah ke bidang lain susah," kata Syahidan.

Salah seorang karyawan, Titi, mengaku sudah 20 tahun bekerja di pabrik ini. Dia hanya mendapat gaji Rp 50-60 ribu setiap minggu. "Saya tidak ada pekerjaan dan keterampilan lain," katanya.

Syahidan selalu berbicara kepada karyawan bahwa kondisi pabrik seperti itu. Satu hal yang membuat Syahidan dan karyawannya terus bertahan adalah nilai sejarah pabrik tenun dan Pusat Koperasi Kota/Kabupaten Tasikmalaya.

Bangunan pabrik masih asli, tidak diubah sedikit pun. "Di tempat ini Kongres Koperasi yang pertama berlangsung," ujar Syahidan dengan bangga.

Mengingat nilai sejarahnya, dia meminta pemerintah melestarikan pabrik tenun dan koperasi tersebut. Dia juga memohon ada bantuan untuk penggantian mesin supaya kembali bisa bersaing dengan pabrik lain. "Kami yang pertama dan terakhir. Harus dipertahankan," tuturnya.

CANDRA NUGRAHA

Berita terkait

Industri Tekstil Dukung Permendag Pengaturan Impor, Dukung Industri dan Ciptakan Lapangan Kerja

46 hari lalu

Industri Tekstil Dukung Permendag Pengaturan Impor, Dukung Industri dan Ciptakan Lapangan Kerja

Industri tekstil mengklaim industri pertekstilan menyerap banyak tenaga kerja terutama yang berpendidikan rendah sehingga patut dipertahankan.

Baca Selengkapnya

API Dukung Pembatasan Barang Impor: Bisa Dorong Peningkatan Utilitas Industri Tekstil Dalam Negeri

47 hari lalu

API Dukung Pembatasan Barang Impor: Bisa Dorong Peningkatan Utilitas Industri Tekstil Dalam Negeri

Ketua API Jemmy Kartiwa mendukung Permendag Nomor 3 Tahun 2024 yang intinya mengatur batas bawaan barang impor.

Baca Selengkapnya

Tekstil Hingga Perikanan Diprediksi Terdampak Resesi Jepang, Batu Bara dan Nikel Waspada

19 Februari 2024

Tekstil Hingga Perikanan Diprediksi Terdampak Resesi Jepang, Batu Bara dan Nikel Waspada

Ekonom Indef menyebut sejumlah sektor bakal terdampak oleh resesi yang melanda Jepang, tujuan ekspor terbesar keempat Indonesia.

Baca Selengkapnya

Ridwan Kamil Penuhi Panggilan Bawaslu, Begini Kasus Dugaan Bagi-bagi Uang di Tasikmalaya Itu

30 Januari 2024

Ridwan Kamil Penuhi Panggilan Bawaslu, Begini Kasus Dugaan Bagi-bagi Uang di Tasikmalaya Itu

Bawaslu Jawa Barat mengungkapkan bahwa ada fakta Ketua TKD Prabowo-Gibran wilayah Jawa Barat Ridwan Kamil, melakukan bagi-bagi uang (saweran).

Baca Selengkapnya

Fasilitas Kawasan Berikat: Menyelami Dukungan Penting bagi Industri Tekstil

4 Oktober 2023

Fasilitas Kawasan Berikat: Menyelami Dukungan Penting bagi Industri Tekstil

Bea Cukai memberikan jawaban terkait sejauh mana fasilitas kawasan berikat telah berdampak positif terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Baca Selengkapnya

Kementerian Perindustrian Dorong Kinerja Industri Tekstil

27 Agustus 2023

Kementerian Perindustrian Dorong Kinerja Industri Tekstil

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus melakukan upaya meningkatkan kinerja industri tekstil dengan pelatihan dan pendidikan vokasi.

Baca Selengkapnya

Industri Tekstil Masih Tertekan, Menperin: Tapi Sekarang Level Tekanannya Berbeda

10 Mei 2023

Industri Tekstil Masih Tertekan, Menperin: Tapi Sekarang Level Tekanannya Berbeda

Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan subsektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mesih tertekan akibat krisis global.

Baca Selengkapnya

Industri Tekstil dan Alas Kaki Masih PHK Karyawan, Menperin: Sedikit Sekali Kok

10 Mei 2023

Industri Tekstil dan Alas Kaki Masih PHK Karyawan, Menperin: Sedikit Sekali Kok

Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan PHK terjadi karena perusahaan sedang melakukan diversifikasi produk.

Baca Selengkapnya

Menperin dan Luhut Sepakat Terus Beri Insentif untuk Industri Tekstil, Ini Sebabnya

10 Mei 2023

Menperin dan Luhut Sepakat Terus Beri Insentif untuk Industri Tekstil, Ini Sebabnya

Menperin Agus Gumiwang dan Menteri Luhut sepakat terus memberi memberi insentif untuk subsektor tekstil dan produk tekstil.

Baca Selengkapnya

Tren Ekspor Meningkat, Luhut: Pemerintah Siapkan Berbagai Insentif untuk Pelaku Industri Tekstil

9 Mei 2023

Tren Ekspor Meningkat, Luhut: Pemerintah Siapkan Berbagai Insentif untuk Pelaku Industri Tekstil

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menilai tren ekspor maupun impor produk tekstil Indonesia meningkat cukup tinggi setelah pandemi Covid-19.

Baca Selengkapnya