BPOM: Sebelum Pandemi Covid-19, Penelitian Obat Butuh Waktu 20 Tahun

Selasa, 17 November 2020 16:25 WIB

Obat Covid-19 Remdesivir dengan nama dagang Covifor digunakan untuk pengobatan Covid-19 di Indonesia/Parit Padang Global

TEMPO.CO, Jakarta - Deputi I Bidang Pengawasan Produk Terapeutik Narkotik Psikotropika dan Zat Adiktif BPOM Nurma Hidayati mengatakan penelitian tentang obat sebelum dan setelah pandemi Covid-19 memiliki perbedaan. Sebelum pandemi, menurut dia, penelitian tersebut membutuhkan waktu yang lebih panjang.

“Kalau dari keadaan normal, sebelum adanya pandemi, penelitian obat bisa butuh waktu 10-20 tahun,” ujar Nurma dalam webinar Marplus Inc pada Selasa, 17 November 2020.

Sedangkan setelah pandemi, Nurma mengatakan ilmuwan mengejar waktu untuk menemukan obat-obat untuk mencegah penularan virus corona. Apalagi hingga kini, belum ada satu pun obat yang terbukti menyembuhkan penyakit yang ditimbulkan akibat virus corona Covid-19.

Penelitian pun dilakukan dengan lebih cepat melalui kolaborasi pelbagai pihak, termasuk pihak internasional. Nurma mengemukakan, kolaborasi penting dilakukan agar penelitian yang dilakukan membuahkan hasil dan tidak hanya berakhir di perpustakaan.

Tak hanya mendorong efektivitas waktu penelitian, pandemi telah memicu ilmuwan dan pelaku usaha farmasi dalam negeri meningkatkan kemandirian bahan baku obat dari sumber-sumber herbal. Selama ini, Indonesia masih bergantung pada bahan baku obat impor yang berbasis kimia.

“Hilirisasi di Indonesia hanya 10 persen. Pengembangan bahan baku 8 persennya didominasi dari bahan tradisional,” ujarnya.
<!--more-->
Begitu pula dengan pengembangan vaksin, Nurma mengatakan beberapa universitas dan lembaga sedang mencoba untuk melakukan riset. Misalnya Universitas Airlangga, Universitas Gadjah Mada, Eijkman, dan LIPI.

“Sekarang bagaimana caranya mendekatkan hasil atau penelitian lembaga riset di Indonesia untuk bisa ditangkap oleh industri farmasi dan segera bisa dilakukan dihilirisasi,” ucapnya. Meski vaksin dalam negeri belum selesai diuji, Nurma mengimbau industri farmasi untuk bersiap melakukan pengembangan.

FRANCISCA CHRISTY ROSANA

Berita terkait

Jangan Sembarang Pakai Skincare Etiket Biru, BPOM Sebut Alasannya

9 jam lalu

Jangan Sembarang Pakai Skincare Etiket Biru, BPOM Sebut Alasannya

Masyarakat diminta untuk tertib dalam menggunakan skincare sesuai peruntukannya, terutama yang beretiket biru, cek sebabnya.

Baca Selengkapnya

Viral Efek Samping Vaksin AstraZeneca, Guru Besar FKUI Sebut Manfaatnya Jauh Lebih Tinggi

1 hari lalu

Viral Efek Samping Vaksin AstraZeneca, Guru Besar FKUI Sebut Manfaatnya Jauh Lebih Tinggi

Pada 2021 lalu European Medicines Agency (EMA) telah mengungkap efek samping dari vaksinasi AstraZeneca.

Baca Selengkapnya

Gejala Baru pada Pasien DBD yang Dialami Penyintas COVID-19

3 hari lalu

Gejala Baru pada Pasien DBD yang Dialami Penyintas COVID-19

Kemenkes mendapat beberapa laporan yang menunjukkan perubahan gejala pada penderita DBD pascapandemi COVID-19. Apa saja?

Baca Selengkapnya

Selain AstraZeneca, Ini Daftar Vaksin Covid-19 yang Pernah Dipakai Indonesia

3 hari lalu

Selain AstraZeneca, Ini Daftar Vaksin Covid-19 yang Pernah Dipakai Indonesia

Selain AstraZeneca, ini deretan vaksin Covid-19 yang pernah digunakan di Indonesia

Baca Selengkapnya

Heboh Efek Samping AstraZeneca, Pernah Difatwa Haram MUI Karena Kandungan Babi

3 hari lalu

Heboh Efek Samping AstraZeneca, Pernah Difatwa Haram MUI Karena Kandungan Babi

MUI sempat mengharamkan vaksin AstraZeneca. Namun dibolehkan jika situasi darurat.

Baca Selengkapnya

Komnas PP KIPI Sebut Tidak Ada Efek Samping Vaksin AstraZeneca di Indonesia

3 hari lalu

Komnas PP KIPI Sebut Tidak Ada Efek Samping Vaksin AstraZeneca di Indonesia

Sebanyak 453 juta dosis vaksin telah disuntikkan ke masyarakat Indonesia, dan 70 juta dosis di antaranya adalah vaksin AstraZeneca.

Baca Selengkapnya

Fakta-fakta Vaksin AstraZeneca: Efek Samping, Kasus Hukum hingga Pengakuan Perusahaan

4 hari lalu

Fakta-fakta Vaksin AstraZeneca: Efek Samping, Kasus Hukum hingga Pengakuan Perusahaan

Astrazeneca pertama kalinya mengakui efek samping vaksin Covid-19 yang diproduksi perusahaan. Apa saja fakta-fakta seputar kasus ini?

Baca Selengkapnya

Kilas Balik Kasus Korupsi APD Covid-19 Rugikan Negara Rp 625 Miliar

9 hari lalu

Kilas Balik Kasus Korupsi APD Covid-19 Rugikan Negara Rp 625 Miliar

KPK masih terus menyelidiki kasus korupsi pada proyek pengadaan APD saat pandemi Covid-19 lalu yang merugikan negara sampai Rp 625 miliar.

Baca Selengkapnya

Persetujuan Baru Soal Penularan Wabah Melalui Udara dan Dampaknya Pasca Pandemi COVID-19

10 hari lalu

Persetujuan Baru Soal Penularan Wabah Melalui Udara dan Dampaknya Pasca Pandemi COVID-19

Langkah ini untuk menghindari kebingungan penularan wabah yang terjadi di awal pandemi COVID-19, yang menyebabkan korban jiwa yang cukup signifikan.

Baca Selengkapnya

Peruri Ungkap Permintaan Pembuatan Paspor Naik hingga Tiga Kali Lipat

11 hari lalu

Peruri Ungkap Permintaan Pembuatan Paspor Naik hingga Tiga Kali Lipat

Perum Peruri mencatat lonjakan permintaan pembuatan paspor dalam negeri hingga tiga kali lipat usai pandemi Covid-19.

Baca Selengkapnya