Senin, 24 Februari 2020

Ikuti Perintah Jokowi, Pertamina Akuisisi Tuban Petrokimia

Reporter:

Retno Sulistyowati

Editor:

Rahma Tri

Senin, 2 Desember 2019 04:00 WIB

Tuban Jadi Kawasan Industri Petrokimia

TEMPO.CO, Jakarta - PT Pertamina (Persero) ternyata telah mengakuisisi PT Tuban Petrochemical Industries (TPI) senilai Rp 3,1 triliun. Artinya, kini Pertamina resmi menjadi pemegang saham mayoritas TPI, induk pabrik aromatik PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), yang berbasis di Tuban, Jawa Timur.

Kabar akuisisi TPI oleh Pertamina ini dapat dilihat di laman situs Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan pada Selasa, 19 November lalu. Galeri foto di warta yang sama menunjukkan perjanjian pembelian yang diteken Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan Direktur Utama Tuban Petrochemical Sukriyanto di depan Direktur Jenderal Kekayaan Negara Isa Rachmatarwata pada Senin, 18 November.

Tuban Petrochemical Industries adalah induk tiga perusahaan petrokimia. Anak usahanya selain Trans Pacific Petrochemical Indotama adalah PT Petro Oxo Nusantara (PON), pabrik oktanol di Gresik, Jawa Timur, dan PT Polytama Propindo, pabrik olefin di Balongan, Indramayu, Jawa Barat.

Advertising
Advertising

Adapun pemerintah berkepentingan mengambil alih Tuban Petro lewat tangan Pertamina untuk menghidupkan kembali kilang TPPI yang sempat mati suri gara-gara tak punya modal. Optimalisasi TPPI, PON, dan Polytama diharapkan bisa mengatasi tingginya ketergantungan pada impor petrokimia. Selama ini, industri petrokimia dalam negeri hanya mampu memenuhi 40 persen kebutuhan nasional.

Dalam kalkulasi pemerintah, bila kilang TPPI beroperasi dan dikembangkan secara optimal, impor produk petrokimia utama akan berkurang sekitar 6.200 kiloton per tahun pada 2030. Dengan begitu, defisit neraca transaksi berjalan bisa berkurang sekaligus menghemat devisa negara hingga US$ 6,6 miliar pada tahun yang sama. Kementerian Keuangan juga memproyeksikan potensi penerimaan pajak sekitar US$ 1,3 miliar. Belum lagi peluang penyerapan tenaga kerja yang diperkirakan mencapai 2.000 orang.

Dengan menyerap seluruh saham baru yang diterbitkan Tuban Petro, Pertamina kini menjadi penguasa anyar perseroan dengan kepemilikan 51 persen saham. Pertamina pun kini lebih percaya diri mengelola kilang aromatik TPPI di Tuban. “Ya (lebih aman),” kata Direktur Perencanaan, Investasi, dan Manajemen Risiko PT Pertamina Heru Setiawan di sela acara “Pertamina Energi Forum 2019” di Jakarta, Rabu, 27 November lalu.

Proses akuisisi ini terbilang kilat. Sepekan setelah pelantikan, Presiden Jokowi mengumpulkan para menteri bidang ekonomi di Istana Negara, Jakarta, untuk membahas pemanfaatan pabrik aromatik itu. Dalam rapat terbatas, Rabu, 30 Oktober lalu, Jokowi bahkan menyatakan keinginannya menjadikan area kilang TPPI sebagai kawasan industri. "Kita tetapkan saja yang Tuban itu, TPPI itu, menjadi kawasan petrokimia.”

Jokowi optimistis produk dari kawasan itu bisa menggantikan komoditas yang selama ini masih dipenuhi dari impor. Bahkan ia menargetkan hidrogen—produk ekses kilang—bisa dimanfaatkan untuk pengembangan biodiesel B30 hingga B100. Saat ini, produk sampingan tersebut dimanfaatkan antara lain untuk bahan bakar pembangkit listrik internal pabrik.

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan malah mengusulkan TPPI bisa menjadi badan usaha milik negara. "Tadi sudah diperintahkan, kami akan buat. Hal paling penting, orang yang menghambat proses pembangunannya akan diganti," ujarnya, mewanti-wanti.

Namun, mantan Direktur Utama Pertamina, Ari Sumarno, mewanti-wanti perseroan migas raksasa itu agar tidak terfokus pada produksi bahan bakar minyak dalam mengoperasikan kilang TPPI nanti. Meski produksi BBM diperlukan untuk menekan impor minyak dan gas—pemicu defisit neraca perdagangan Indonesia—produk ini kurang ekonomis. “Kilang TPPI harus menghasilkan produk petrokimia yang harganya jauh lebih komersial,” tuturnya.

Ari justru menyarankan Pertamina untuk melanjutkan rencana pembangunan kilang olefin yang sempat terhenti. Kebutuhan dana untuk membangun pabrik ini memang sangat tinggi, yakni US$ 1,2-1,4 miliar. “Pertamina bisa menggandeng investor untuk itu,” ucapnya.

RETNO SULISTYOWATI | MAJALAH TEMPO

Baca artikel lengkapnya di Majalah Tempo edisi Senin, 2 Desember 2019.