Senin, 6 April 2020

Prediksi Ekonomi Tumbuh 4,5 Persen, Rizal Ramli: Makin Nyungsep

Reporter:

Tempo.co

Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

Senin, 12 Agustus 2019 15:10 WIB

Mantan menteri Rizal Ramli menghadiri Aksi Bela Palestina di Lapangan Monas, Jakarta, 17 Desember 2017. Menurut polisi, aksi ini dihadiri sekitar 80.000 peserta dari berbagai kota. Instagram/@Rr.Rizalramli

TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini di kisaran angka 4,5 Persen. Menurut data BPS, pertumbuhan Indonesia kuartal II hanya 5,05 persen disebabkan faktor ekonomi makro yang terus menurun dalam beberapa waktu terakhir.

"Kami ingin mengatakan bahwa tahun ini ekonomi Indonesia akan makin nyungsep, pertumbuhan ekonominya paling hanya 4,5 persen," kata mantan Menteri Keuangan era Presiden Abdurahman Wahid di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin 12 Agustus 2019.

Adapun faktor ekonomi makro yang terus menurun seperti current account defisit (CAD) merosot ke US$ 8 miliar. Menurut Rizal, hal ini harus menjadi perhatian pemerintah jangan sampai kondisi ini membuat Indonesia harus mengalami krisis seperti 1997 dan 1998.

"Indikator makro menunjukkan makin merosot. Grafik CAD makin merosot sampai terakhir US$ 8 miliar. PDB juga meningkat lumayan besar dan ini membahayakan. Dulu juga terjadi 1998 kayak gini," ujarnya

Rizal mengatakan, bahwa apa yang dia sampaikan bertujuan untuk mengingatkan kepada pemerintah untuk mengantisipasi. Namun, menurutnya pemerintah selalu membantah kondisi perekonomian Indonesia masih baik. "Cuman seperti biasa pejabat kita kepedean. Sibuk bantah-bantah, bukan malah mencari solusi," tambahnya.

Kemudian Rizal menambahkan, pemerintah ke depan harus memperbaiki seluruh komponen ekonomi makro agar pertumbuhan semakin besar. Selain itu, dia juga meminta pemerintah tidak menjadikan ekonomi sebagai proyek untuk kepentingannya sendiri.

"Saya ingin mengatakan bahwa ekonomi bukan proyek. Mohon maaf, bukan hanya itu, tapi indikator lain juga seperti daya beli, pekerjaan dan macam-macam. Kalau hanya proyek bisa jebol nanti," ucap Rizal.

Selanjutnya Rizal Ramli juga membandingkan neraca dagang Indonesia yang mengalami defisit. Situasi ini dinilai terbalik oleh Mantan Menteri era Presiden Gus dur, karena menurutnya negara ASEAN lain mengalami surplus seperti Myanmar dan Thailand. "Diprediksi padahal ini semua bisa diperkirakan."

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2019 sebesar 5,05 persen secara year on year. Sedangkan pertumbuhan ekonomi triwulan II terhadap triwulan I 2019 terhitung sebesar 4,2 persen.

"Dengan demikian, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi adalah 5,06 persen,” ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam pemaparan di kantornya, Jakarta Pusat, Senin, 5 Agustus 2019.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo yakin ekonomi Indonesia ke depan akan terus membaik. Meskipun, kata dia, pertumbuhan ekonomi akan lambat saat di awal.

"Tahun ini 5 persen tapi within the next 5 year kita bisa tembus 6 persen," kata Perry Warjiyo dalam peringatan 53 tahun Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bertema Transformasi Ekonomi di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat, 9 Agustus 2019.

Dia optimistis transformasi perekonomian bisa terwujud, karena bauran kebijakan dan sinergi yang terjalin antara berbagai pihak.

Dia mengatakan bauran kebijalan BI sejak tahun lalu sulit melakukan manuver pada sisi kebijakan moneter. Namun, kata Perry, BI mengeluarkan jamu-jamu sebagai yang juga bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

EKO WAHYUDI | RR ARIYANI