Depresiasi Rupiah, Ketua DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Politikus Gerindra, Fadli Zon, memberikan keterangan kepada media usai menggelar pertemuan tertutup di Bakrie Tower, Jakarta, 29 Januari 2015. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Politikus Gerindra, Fadli Zon, memberikan keterangan kepada media usai menggelar pertemuan tertutup di Bakrie Tower, Jakarta, 29 Januari 2015. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mengingatkan bahwa Indonesia dalam keadaan bahaya jika pemerintah tidak segera mengambil tindakan nyata dalam menghadapi  kondisi ekonomi saat ini, termasuk dalam merespon depresiasi rupiah.

    "Saat ini ancaman PHK sudah semakin nyata. Perusahaan banyak yang mengalami penurunan kemampuan keuangan secara drastis, akibat situasi ekonomi nasional yang terpuruk. Saat ini nilai tukar dollar mencapai Rp.13.500,"ujar Fadli Zon.

    Fadli Zon dalam keterangan tertulisnya mengatakan nilai tukar dolar yang sangat tinggi melemahkan perekonomian nasional.

    "Pernyataan Menteri Keuangan yang menyatakan depresiasi rupiah bukan tanggung jawab pemerintah, adalah sikap yang sangat keliru, bahkan berbahaya. Ini menunjukan tidak adanya koordinasi antara pemerintah dengan Bank Indonesia. Akan banyak pelaku ekonomi yang semakin tidak percaya pada pemerintah. Pemerintah dianggap tidak bisa mengendalikan situasi ini." lanjut Fadli Zon.  

    "Ini sudah lampu merah. Tanda bahaya. Pemerintah jangan lagi hanya melepas tanggung jawab dan membuang badan atas situasi ini. Kalau tidak, defisit akan terus membesar," katanya.

    Pemerintah, kata Fadli,  harus mengambil tindakan nyata dalam merespon depresiasi rupiah, seperti ketegasan dalam penerapan kebijakan penggunaan mata uang rupiah dalam setiap transaksi di Indonesia dan meningkatkan ekspor.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Instagram Uji Coba Menghilangan Fitur Likes agar Fokus ke Konten

    Instagram tengah lakukan uji coba penghapusan fitur likes di beberapa negara pada Juli 2019. Reaksi pengguna terbelah, sebagian merasa dirugikan.