Selasa, 23 Oktober 2018

Deregulasi Penerbangan Picu Kepadatan Bandara  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bandara Internasional Juanda Surabaya. ANTARA/Eric Ireng

    Bandara Internasional Juanda Surabaya. ANTARA/Eric Ireng

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara PT Angkasa Pura I (Persero), Handy Heryudhityawan, menyatakan kepadatan bandara telah terjadi selama belasan tahun terakhir. "Setelah ada deregulasi penerbangan tahun 2000," katanya saat dihubungi Tempo, Rabu, 18 September 2013.

    Ia menjelaskan, dengan adanya deregulasi tersebut, investor mendapat kemudahan untuk menjalankan bisnis penerbangan. Sejak itu, penerbangan berbiaya rendah (low cost carrier-LCC) mulai bermunculan.

    "Sebelumnya, masyarakat hanya mengenal Garuda Indonesia, Merpati Nusantara Airlines, Bouraq, dan Mandala Airlines,"  katanya. Handy menambahkan, deregulasi itu mendorong kemunculan maskapai-maskapai baru, antara lain Adam Air, Kartika Airlines, Jatayu Airlines, Bayu Indonesia Air, dan Bali Air.

    Handy menjelaskan, sejak lahirnya maskapai-maskapai berbiaya rendah itu, terjadi tren peningkatan jumlah penumpang yang luar biasa. Misalnya di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Sepanjang tahun 1997, perseroan mencatat dua juta penumpang datang dan pergi melalui bandara tersebut.

    Pada 1998, jumlah penumpang menyusut karena krisis ekonomi. Setelah deregulasi penerbangan terjadi pada 2000, kata Handy, jumlah penumpang di bandara itu melonjak signifikan. Pada 2012, ada 9,4 juta penumpang yang melalui Bandara Sultan Hasanuddin. "Padahal kapasitasnya hanya untuk tujuh juta penumpang per tahun," ujar Handy.

    Kementerian Perhubungan menyebutkan sembilan dari 13 bandara yang dikelola PT Angkasa Pura I telah melebihi kapasitas penumpang. Angkasa Pura I membenarkan hal tersebut dan menyatakan sedang melakukan pengembangan terhadap sejumlah bandara yang padat.

    Menurut Handy, rencana pengembangan yang dirancang perseroan menggunakan skala prioritas. "Beberapa yang sudah dikembangkan, seperti Bali, Balikpapan, dan Surabaya," ujarnya. Setelah itu menyusul pengembangan bandara di Yogyakarta, Banjarmasin, dan Semarang.

    Pengembangan yang dilakukan perseroan, kata Handy, berbeda-beda, bergantung pada kebutuhan bandara. Namun pengembangan mencakup luas bandara dan terminal, pembangunan bandara baru, dan penambahan landasan pacu.

    Begitu juga Terminal 1 dan 2 Bandara Juanda, Surabaya, hanya bisa menampung enam juta penumpang karena melihat realisasi jumlah penumpang tahun lalu mencapai 16 juta penumpang. Artinya, perlu ada pengembangan lagi. "Ini yang kami sebut kebutuhan karena masih kurang. Surabaya perlu kami kembangkan lebih luas dengan menambah terminal 3, persiapan pengembangan lanjutan, yakni landas pacu baru," ujarnya.

    MARIA YUNIAR

    Berita Terkait
    Transaksi Lion Air-Airbus Rp 232,8 Triliun

    Lion Air Pesan 201 Unit A320 Rp 194,1 Triliun

    Lion Air Pesan 201 Unit Airbus Rp 194,1 Triliun

    Mei, Mandala Buka Rute Baru Tujuan Australia

    Rapat Batal, Ratusan Kreditor Batavia Air Telantar





     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.